Kemenhut Bangun Koridor Gajah 2.217 Ha Seblat

Kemenhut Bangun Koridor Gajah 2217 Ha Seblat jadi headline besar Desember 2025! Kementerian Kehutanan (Kemenhut) resmi umumkan akan memperkuat koridor gajah di Bentang Alam Seblat, Bengkulu, yang sudah disepakati seluas 2.217 hektare dengan panjang 53 kilometer. Ini bukan cuma janji kosong—pemerintah udah turun tangan langsung dengan operasi gabungan “Merah Putih” yang berhasil menguasai kembali ribuan hektare hutan yang dirambah ilegal.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni tegas bilang: “Kondisi saat ini menunjukkan bahwa antar-kantong gajah sudah terfragmentasi. Untuk itu, Kementerian Kehutanan akan membangun beberapa koridor gajah untuk menyambungkan dua kantong yang terpisah.” Pernyataan ini keluar pas dia kunjungan ke Pusat Latihan Gajah (PLG) TWA Seblat pada 11 Desember 2025.

Kenapa ini penting? Populasi gajah Sumatera cuma tersisa sekitar 1.100 ekor di 22 lanskap menurut data terbaru Media Indonesia (Januari 2026), turun drastis dari perkiraan 2.400 individu beberapa tahun lalu. Habitat mereka terus menciut gara-gara perkebunan sawit, tambang, dan pemukiman. Bentang Seblat jadi salah satu area paling kritis yang butuh penyelamatan urgent.


Operasi Merah Putih: 7.755 Ha Dikuasai Kembali, 17.200 Sawit Ilegal Dimusnahkan

Kemenhut Bangun Koridor Gajah 2.217 Ha Seblat

Pemerintah gak main-main. Hingga 10 Desember 2025, operasi gabungan berhasil mengidentifikasi perambahan sekitar 8.500 ha, menguasai kembali sekitar 7.790 ha, merobohkan 113 pondok perambahan, memusnahkan sekitar 17.200 batang sawit ilegal, menghancurkan 6 jembatan ilegal, mengamankan 2 alat berat, menerbitkan 3 Surat Perintah Penyidikan (Sprindik), dan mengamankan 12 pelaku dengan 3 di antaranya sudah ditahan.

Data dari Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kehutanan Sumatera mencatat operasi lanjutan 3-6 November 2025 berhasil menambah penguasaan kawasan. Tim gabungan yang terdiri dari Balai Gakkum Kehutanan Sumatera, Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), BKSDA Bengkulu, dan Dinas LHK Provinsi Bengkulu/KPH Bengkulu Utara berhasil mengamankan 4.000 hektare tambahan di Hutan Produksi Terbatas (HPT) Lebong Kandis dan Hutan Produksi (HP) Air Rami.

Yang bikin ngeri, ini semua terjadi di habitat alami gajah Sumatera. Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki yang meninjau langsung lewat helikopter pada 4 November 2025 langsung bereaksi tegas: “Koridor Seblat adalah rumah bagi Gajah Sumatera. Negara tidak akan membiarkan kawasan ini dirusak oleh aktivitas ilegal. Ini bukan hanya soal gajah, tapi tentang keberlanjutan ekosistem dan masa depan manusia.”

Tiga pekerja sawit ilegal diamankan pada 1 November 2025, ditambah satu pemilik kebun berinisial SM pada 5 November 2025. Dari tangan mereka, petugas sita bibit sawit, alat pertanian, dan dokumen aktivitas di kawasan hutan.


Koridor 2.217 Ha: Jalur Hidup Menghubungkan 12 Kantong Gajah

Kemenhut Bangun Koridor Gajah 2.217 Ha Seblat

Kemenhut Bangun Koridor Gajah 2217 Ha Seblat ini spesifiknya adalah Koridor Seblat-Air Teramang-Air Rami. Koridor dengan luas 2.217 hektare dan panjang sekitar 53 kilometer ini diharapkan dapat menghubungkan sedikitnya 12 kantong populasi gajah sumatera guna menjaga pola pergerakan satwa, menekan konflik dengan manusia, serta memastikan kelestarian gajah sumatera.

Fungsinya bukan sekadar jalur lewat. Menurut Prof Burhanuddin dari Universitas Bengkulu, koridor ini berfungsi sebagai jalur migrasi, sumber pakan, hingga ruang yang memfasilitasi proses reproduksi alami. Jika koridor musiman hilang, sinkronisasi perilaku fisiologis untuk perkawinan dapat terganggu, dan ketika reproduksi terganggu, penurunan populasi menjadi keniscayaan.

Kawasan Bentang Alam Seblat sendiri udah ditetapkan sebagai Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) sejak Desember 2019 berdasarkan Keputusan Gubernur Bengkulu Nomor 4 Tahun 2017, dengan total luas 40.220,81 hektare. Tujuannya menghubungkan atau rekoneksi antara TWA Seblat dan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), sekaligus menyediakan habitat yang cocok untuk keberlangsungan hidup gajah.

Menhut Raja Juli Antoni menegaskan: “Koridor gajah adalah jalur hidup satwa. Kalau koridor terputus, maka populasi akan terancam. Ini tanggung jawab kita semua untuk menjaganya.”

Shercat.com juga melaporkan berbagai upaya konservasi satwa langka di Indonesia.


Ancaman Nyata: 1.585 Ha Habitat Hilang dalam 22 Bulan

Kemenhut Bangun Koridor Gajah 2.217 Ha Seblat

Meski pemerintah gencar operasi, ancaman masih mengintai. Data terbaru menunjukkan sedikitnya 1.585 hektare habitat gajah Sumatera hilang sepanjang Januari 2024 hingga Oktober 2025. Ini belum termasuk kerusakan yang baru ditemukan dalam operasi November-Desember 2025.

Koalisi Selamatkan Bentang Alam Seblat bahkan mendesak Kemenhut mencabut izin konsesi dua perusahaan: PT Anugrah Pratama Inspirasi (API) dan PT Bangun Andalas Timber (BAT). Berdasarkan hasil pemantauan lapangan pada 2024, kerusakan hutan di areal konsesi PT API mencapai 14.183 ha yang terdiri dari semak belukar 6.577 ha, perkebunan sawit dalam hutan 5.432 ha, dan lahan terbuka 2.173 ha.

Direktur Yayasan Genesis Bengkulu Egi Saputra bilang total jumlah kawasan konsesi yang rusak mencapai belasan ribu hektare. PT API punya konsesi seluas 41.988 ha berdasarkan SK No: 3/1/IUPHHK-PB/PMDN/2017 tertanggal 3 April 2017, tapi gagal mengamankan wilayahnya dari perambahan.

Yang lebih parah, pada 31 Oktober 2025, tim Resort TNKS menemukan bukaan lahan baru sekitar 3-4 hektare yang diduga dilakukan pada September 2025, mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas perambahan dalam beberapa bulan terakhir.


Konflik Manusia-Gajah: Data dari Berbagai Daerah yang Bikin Miris

Kemenhut Bangun Koridor Gajah 2.217 Ha Seblat

Kemenhut Bangun Koridor Gajah 2217 Ha Seblat jadi makin urgent karena konflik gajah-manusia di Sumatera terus naik. Ini data faktual dari berbagai daerah:

Aceh (Area Paling Parah): Konflik manusia-gajah pada 2022 mencapai 136 kasus, 2023 (149 kasus), dan 2024 (114 kasus). Banjir besar November-Desember 2025 yang melanda Aceh malah bikin situasi makin buruk. Seekor bangkai gajah Sumatera ditemukan di antara puing-puing kayu di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh—diduga terseret banjir dari hutan di bagian hulu sungai.

Riau: Konflik sepanjang tahun 2025 mencapai 15 kasus. Di Riau, populasi gajah liar saat ini diperkirakan hanya tersisa 250 hingga 300 ekor, tersebar di tujuh kantong habitat meliputi Tesso Nilo (Tenggara dan Utara), Giam Siak Kecil, Balai Raja, Minas, Petapahan, dan Mahato.

Dampak ke Populasi: Syamsuardi dari WWF Indonesia mengingatkan: “Pascabencana, konflik manusia dan gajah bisa jadi makin meningkat, dan ini diperburuk dengan eksploitasi habitat gajah yang tidak terkontrol.”

Yang paling memprihatinkan, dalam dua dekade terakhir, total populasi gajah secara umum di Sumatera telah mengalami penurunan drastis hingga 69 persen.


Populasi Gajah Sumatera: Dari 4.800 Ekor (1980-an) Jadi 1.100 Ekor (2025)

Kemenhut Bangun Koridor Gajah 2.217 Ha Seblat

Angka-angka ini bikin miris. Dari perkiraan 2.800 hingga 4.800 individu di era 1980-an, data terakhir pada 2019 menunjukkan jumlahnya di alam liar mungkin hanya tersisa 928 hingga 1.379 individu.

Update terbaru lebih mengkhawatirkan. Populasi gajah Sumatra kini diperkirakan tidak lebih dari 1.100 ekor di 22 lanskap, dengan tren jangka panjang yang terus menurun akibat hilangnya habitat, fragmentasi hutan, konflik manusia-gajah, jerat, dan perburuan.

Data lain menyebut populasi liarnya diperkirakan hanya berkisar di bawah 1.500 ekor di seluruh Pulau Sumatra. Perbedaan angka ini karena metode penghitungan berbeda, tapi semua sumber sepakat: populasinya terus menurun drastis.

Penyebab Utama: Berdasarkan dokumen analisis Yayasan Auriga Nusantara, dalam rentang 2007-2020 ada 1,3 juta hektar habitat gajah sumatera yang hilang akibat konversi hutan menjadi lahan perkebunan skala besar. Saat ini, luasan habitat gajah tersisa 4,6 juta hektar.

Di Lanskap Sugihan-Simpang Heran, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan yang dipresentasikan di IUCN World Conservation Congress Abu Dhabi Oktober 2025, Dr. Dolly Priatna dari Belantara Foundation menjelaskan: “Dari total luas 600.000 hingga 700.000 hektar, hanya sekitar 75.000 hektar (sekitar 10-12%) yang berstatus Suaka Margasatwa Padang Sugihan. Sisanya adalah bentang alam yang didominasi oleh hutan tanaman industri, perkebunan kelapa sawit, sawah-ladang, dan pemukiman masyarakat.”


Langkah Konkret Pemerintah: Beyond Operasi Lapangan

Kemenhut Bangun Koridor Gajah 2217 Ha Seblat bukan cuma soal bikin jalur fisik. Ada strategi komprehensif:

1. Revitalisasi PLG TWA Seblat Kemenhut menargetkan peningkatan fasilitas kandang dan area latihan gajah, penyediaan pusat edukasi dan informasi publik, penataan jalur interpretasi satwa, pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di sekitar TWA, dan penguatan program mitigasi konflik satwa dan manusia.

2. Rehabilitasi Ekosistem Pasca-Operasi Kementerian Kehutanan menyiapkan tindakan pemulihan ekosistem melalui revegetasi area terbuka dan bekas perambahan, penyambungan kembali jalur pergerakan satwa, peningkatan patroli kawasan secara rutin, dan penertiban batas kawasan prioritas.

3. Penegakan Hukum Tegas Dirjen Gakkum Kemenhut Dwi Januanto Nugroho bilang: “Seluruh pelaku perusakan hutan akan kami tindak tegas, termasuk mereka yang memperjualbelikan kawasan hutan negara. Operasi Seblat membuktikan bahwa penegakan hukum kehutanan dijalankan dengan serius dan berkesinambungan.”

Sejak Januari 2025, Kemenhut udah melaksanakan 44 operasi pengamanan hutan dari perambahan, dan 21 di antaranya sudah P21 (lengkap berkas penyidikan).

4. Kolaborasi Multi-Pihak Wamenhut menyampaikan: “Kami membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya. Mari kita jaga bersama Bentang Alam Seblat, bukan hanya untuk gajah, tetapi juga untuk masa depan manusia yang bergantung pada hutan yang sehat.”


Tantangan Masa Depan: Apa yang Masih Harus Dihadapi?

Meski progress bagus, Kemenhut Bangun Koridor Gajah 2217 Ha Seblat masih hadapi tantangan besar:

1. Luasnya Area Pengawasan Dengan luas 2.217 ha dan panjang 53 km, plus area buffer di sekitarnya, patroli 100% efektif masih sulit dicapai. Perambah baru terus bermunculan meski operasi gencar dilakukan.

2. Resistensi Ekonomi Prof Burhanuddin dari Universitas Bengkulu mengkritik: “Akar masalahnya adalah dominasi orientasi ekonomi dalam kebijakan tata guna lahan. Banyak alih fungsi terjadi secara ilegal. Koridor ekologis nyaris tidak masuk dalam pertimbangan kebijakan.”

3. Perubahan Iklim Banjir besar November-Desember 2025 yang melanda Aceh, Sumut, dan Sumbar menunjukkan dampak climate change makin nyata. Berdasarkan penelusuran Mongabay Indonesia, sebagian besar titik bencana banjir berada di kantong-kantong habitat gajah sumatera, khususnya di bagian utara Aceh yang memiliki 6 kantong habitat gajah sumatera.

4. Pola Tanam Masyarakat Koordinator Rimba Satwa Foundation Zulhusni Syukri menjelaskan: “Habitat gajah ini memang setiap tahun semakin menipis. Dan kemudian kita masyarakat itu menanam tanaman yang disukai gajah. Kebanyakan menanami tanaman-tanaman yang disukai oleh gajah, misal kelapa sawit.”

Gajah yang masuk ke kebun kelapa sawit berumur tiga tahun bisa menghabiskan satu hektare lahan hanya dalam beberapa jam. Ini pemicu utama konflik.

5. Keterlibatan Masyarakat Prof Burhanuddin menekankan: “Pelibatan masyarakat adalah kunci. Tanpa mereka, konservasi hanya akan menjadi dokumen kebijakan tanpa implementasi.” Flying squad yang terbukti efektif di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, bisa jadi model untuk Seblat.


Baca Juga Gajah Sumatera di Ambang Kepunahan 2025


Harapan di Tengah Ancaman Kepunahan

Kemenhut Bangun Koridor Gajah 2217 Ha Seblat adalah langkah konkret penyelamatan gajah Sumatera yang populasinya tinggal 1.100 ekor. Dengan operasi Merah Putih yang berhasil mengamankan ribuan hektare, penegakan hukum tegas terhadap perambah, dan komitmen revitalisasi habitat, ada secercah harapan.

Tapi tantangannya masih berat: perambahan terus terjadi, konflik manusia-gajah belum mereda, perubahan iklim makin ekstrem, dan keterlibatan masyarakat masih perlu ditingkatkan. Keberhasilan koridor ini akan menentukan apakah gajah Sumatera bisa survive atau jadi punah dalam beberapa dekade ke depan.

Menhut Raja Juli Antoni menutup kunjungannya dengan tegas: “Operasi ini baru langkah awal.” Artinya, perjuangan masih panjang.

Pertanyaan buat kamu: Dari semua data di atas, menurut kamu faktor mana yang paling krusial untuk keberhasilan koridor ini—penegakan hukum, keterlibatan masyarakat, atau pendanaan jangka panjang? Share pendapatmu! 🐘🌳


Sumber Referensi (Verified):

  • ANTARA News, “Kemenhut akan bangun koridor hubungkan habitat gajah di Bentang Seblat” (11 Desember 2025)
  • Kemenhut RI, “Wamenhut Tinjau Koridor Gajah Seblat” (4 November 2025)
  • Kemenhut RI, “Operasi Gabungan Merah Putih Kawal Bentang Alam Seblat” (13 Desember 2025)
  • BeritaKaltim.Co, “Kemenhut Kuasai Kembali 4.000 Hektare Hutan Gajah Seblat” (7 November 2025)
  • BeritaKaltim.Co, “Operasi Gakkum: 7.755 Ha Hutan Bentang Seblat Diamankan” (6 Desember 2025)
  • Media Indonesia, “Konservasi Gajah Antara Niat Baik Negara dan Tantangan Implementasi” (2 Januari 2026)
  • Media Indonesia, “Degradasi Habitat di Bengkulu Dorong Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan” (21 November 2025)
  • Mongabay Indonesia, “Catatan Akhir Tahun: Melindungi Satwa Liar, Menjaga Manusia dari Bencana” (26 Desember 2025)
  • Ekuatorial.com, “Gajah Sumatera di ujung tanduk” (25 Oktober 2025)
  • Tribunpekanbaru.com, “Populasi Gajah di Sumatera Turun 69 Persen dalam 20 Tahun” (15 November 2025)