AWC 2026 Catat 99 Spesies Burung Pesisir Jakarta

AWC 2026 Catat 99 Spesies Burung Pesisir Jakarta adalah hasil luar biasa dari Asian Waterbird Census 2026, sensus serentak yang dilaksanakan pada 14 Februari 2026 di tiga kawasan pesisir ibu kota. Menurut Republika (2026), sebanyak 99 jenis burung dengan ratusan individu tercatat oleh 83 relawan muda. Data ini menegaskan bahwa ekosistem lahan basah Jakarta masih menjadi habitat krusial bagi burung air, meski berada di bawah tekanan urbanisasi dan degradasi lingkungan yang kian berat.


Apa Itu AWC 2026 Catat 99 Spesies Burung Pesisir Jakarta?

AWC 2026 Catat 99 Spesies Burung Pesisir Jakarta

AWC 2026 Catat 99 Spesies Burung Pesisir Jakarta merujuk pada hasil konkret kegiatan Asian Waterbird Census (AWC) 2026 yang dilaksanakan oleh Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI bersama puluhan mitra komunitas dan akademisi.

Asian Waterbird Census sendiri merupakan program pemantauan burung air tahunan yang dikoordinasikan secara global oleh Wetlands International, sebagai bagian dari International Waterbird Census (IWC). Menurut Wetlands International Indonesia (2026), program ini dirancang untuk memantau populasi burung air di lahan basah Asia setiap tahunnya, sekaligus menilai kondisi ekosistem lahan basah secara berkala.

Tahun 2026 menjadi tahun yang istimewa karena AWC memasuki edisi ke-40, sementara IWC merayakan ulang tahun ke-60. Di Indonesia, AWC 2026 berlangsung sepanjang Januari hingga Februari 2026 dengan mengusung tema “Kenali dan Lindungi Burung Air di Sekitar Kita”.

Poin-poin penting:

  • AWC adalah sensus burung air terbesar di Asia, berlangsung setiap Januari–Februari.
  • AWC 2026 adalah edisi ke-40 dari program pemantauan global ini.
  • Di pesisir Jakarta, sensus dilakukan serentak pada 14 Februari 2026, pukul 07.00–17.00 WIB.
  • Hasilnya: 99 jenis burung dengan ratusan individu tercatat di tiga kawasan.

Di Mana Lokasi Sensus AWC 2026 di Jakarta?

AWC 2026 Catat 99 Spesies Burung Pesisir Jakarta

AWC 2026 Catat 99 Spesies Burung Pesisir Jakarta dilaksanakan serentak di tiga kawasan lahan basah pesisir utara Jakarta yang memiliki nilai ekologis tinggi. Menurut laporan Trubus (2026), ketiga lokasi tersebut adalah:

  1. Hutan Lindung Angke Kapuk (HLAK) — kawasan hutan mangrove yang berfungsi sebagai penyangga ekologi pesisir utara Jakarta.
  2. Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk — area ekowisata berbasis mangrove yang dikelola bersama oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta dan Jakarta Mangrove Resort.
  3. Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) — kawasan suaka margasatwa yang menjadi salah satu kantong terakhir lahan basah alami di Jakarta.

Ketiga lokasi ini dipilih bukan secara acak. Kawasan pesisir utara Jakarta, khususnya area Angke–Muara Angke, sudah lama dikenal sebagai koridor migrasi dan habitat penting bagi burung air di Pulau Jawa. Namun, kawasan ini juga menghadapi tekanan berat dari pencemaran dan alih fungsi lahan yang semakin mengancam kelestariannya.

Poin-poin penting:

  • Tiga kawasan: HLAK, TWA Angke Kapuk, dan SMMA menjadi lokasi sensus AWC 2026 Jakarta.
  • Semua kawasan berada di pesisir utara Jakarta, koridor migrasi burung air yang kritis.
  • Pengamatan berlangsung serentak selama 10 jam penuh, pukul 07.00–17.00 WIB.

Berapa Jumlah Burung yang Ditemukan di Setiap Lokasi?

AWC 2026 Catat 99 Spesies Burung Pesisir Jakarta

Hasil AWC 2026 Catat 99 Spesies Burung Pesisir Jakarta dirinci per lokasi pengamatan. Berdasarkan laporan Pasjabar (2026) yang mengutip data lapangan Biodiversity Warriors, berikut rinciannya:

Hutan Lindung Angke Kapuk (HLAK): Tercatat 38 jenis burung dengan total 289 individu, di mana 18 di antaranya merupakan burung air sebanyak 206 individu. Lokasi ini mencatat jumlah individu tertinggi di antara ketiga kawasan.

Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk: Teridentifikasi 34 jenis burung dengan 117 individu, termasuk 12 jenis burung air sebanyak 54 individu.

Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA): Ditemukan 27 jenis burung dengan 126 individu, di mana 13 jenis merupakan burung air sebanyak 42 individu.

Di antara spesies yang berhasil diamati adalah blekok sawah (Ardeola speciosa), pecukpadi hitam (Phalacrocorax sulcirostris), pecukular asia (Anhinga melanogaster), cangak abu (Ardea cinerea), dan cangak merah (Ardea purpurea). Kehadiran spesies-spesies ini, menurut para pengamat, merupakan indikator positif bahwa ekosistem lahan basah di kawasan tersebut masih berfungsi secara ekologis.

Poin-poin penting:

  • HLAK mencatat jumlah individu burung terbanyak: 289 individu dari 38 jenis.
  • Secara total, 99 jenis burung dengan ratusan individu tercatat di seluruh kawasan.
  • Spesies seperti cangak merah dan pecukular asia menjadi penanda kesehatan ekosistem lahan basah.

Mengapa AWC 2026 Catat 99 Spesies Burung Pesisir Jakarta Penting?

AWC 2026 Catat 99 Spesies Burung Pesisir Jakarta

Temuan AWC 2026 Catat 99 Spesies Burung Pesisir Jakarta bukan sekadar angka statistik. Data ini memiliki implikasi ilmiah dan kebijakan yang luas, terutama di tengah tekanan pembangunan yang terus menggerus kawasan pesisir Jakarta.

Menurut Direktur Komunikasi dan Kemitraan Yayasan KEHATI, Rika Anggraini (2026), AWC bukan sekadar kegiatan pengamatan burung biasa. Program ini merupakan mekanisme ilmiah pemantauan ekosistem lahan basah yang dilakukan secara serentak di tingkat global. Data yang dikumpulkan dari pesisir Jakarta akan berkontribusi langsung pada pembaruan basis data nasional dan regional mengenai populasi burung air — penting untuk mendeteksi tren penurunan populasi, perubahan pola migrasi, hingga tekanan terhadap habitat.

Lebih dari itu, data AWC digunakan secara internasional untuk mendukung penetapan kawasan penting bagi burung dan keanekaragaman hayati (Important Bird and Biodiversity Areas/IBA), serta Ramsar Sites — kawasan lahan basah yang dilindungi secara internasional. Artinya, setiap catatan yang dibuat oleh para relawan muda di pesisir Jakarta pada 14 Februari 2026 berpotensi mempengaruhi kebijakan konservasi di tingkat global.

Poin-poin penting:

  • Data AWC 2026 berkontribusi pada basis data populasi burung air nasional dan regional.
  • Hasil sensus dapat mendukung penetapan kawasan IBA dan Ramsar Sites secara internasional.
  • Keberadaan 99 spesies burung di pesisir Jakarta membuktikan ekosistem lahan basah kota ini masih vital.
  • Data ini krusial untuk mendeteksi perubahan pola migrasi dan tren penurunan populasi spesies tertentu.

Siapa Saja yang Terlibat dalam AWC 2026 Jakarta?

AWC 2026 Catat 99 Spesies Burung Pesisir Jakarta

Salah satu aspek paling menonjol dari AWC 2026 Catat 99 Spesies Burung Pesisir Jakarta adalah pelibatan generasi muda secara masif dan terstruktur. Menurut Trubus (2026), sebanyak 83 peserta muda dari kalangan siswa SMA/sederajat dan mahasiswa terjun langsung ke lapangan pada hari sensus.

Para relawan ini berasal dari berbagai komunitas dan kelompok studi, antara lain:

  • Biodiversity Warriors — Yayasan KEHATI sebagai penyelenggara utama.
  • Saka Wanabakti Daerah Provinsi DKI Jakarta.
  • Kelompok Studi Hidupan Liar Comata — Universitas Indonesia.
  • Kelompok Pengamat Burung (KPB) Nycticorax — Universitas Negeri Jakarta.
  • KPB Nectarinia — UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
  • Himpunan Mahasiswa Biologi Rafflesia — Universitas Islam As-Syafi’iah.

Dukungan juga datang dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi DKI Jakarta, Jakarta Mangrove Resort TWA Angke Kapuk, TFCA Sumatera, dan Yayasan Lahan Basah.

Rika Anggraini dari KEHATI menegaskan bahwa pelibatan generasi muda bukan hanya soal menambah jumlah tenaga di lapangan. Ini tentang membangun kapasitas citizen science yang kredibel dan berbasis metodologi — konservasi yang tidak hanya bersandar pada kepedulian, tetapi juga pada data ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Poin-poin penting:

  • 83 relawan muda dari 6+ komunitas dan perguruan tinggi terlibat langsung.
  • Kolaborasi lintas institusi: KEHATI, BKSDA DKI, universitas negeri dan swasta.
  • Pelibatan generasi muda bertujuan membangun kapasitas citizen science jangka panjang.

Bagaimana Cara AWC 2026 Mendukung Konservasi Lahan Basah?

AWC 2026 Catat 99 Spesies Burung Pesisir Jakarta adalah bagian dari jaringan pemantauan burung air terbesar di dunia yang dikoordinasikan oleh Wetlands International. Menurut East Asian–Australasian Flyway Partnership (EAAFP), data AWC digunakan untuk mendukung pemenuhan komitmen negara-negara anggota dalam memastikan sistem pemantauan burung air migrasi dan habitatnya berjalan secara konsisten — sesuai dengan EAAFP Strategic Plan 2019–2028.

Secara praktis, data yang dikumpulkan dari pesisir Jakarta dimasukkan ke dalam International Waterbird Census (IWC) Portal — basis data global yang dapat diakses oleh peneliti, lembaga pemerintah, dan pembuat kebijakan di seluruh dunia. Data ini kemudian digunakan untuk menghitung ambang 1% populasi yang menjadi syarat penetapan EAAFP Network Sites dan Ramsar Sites.

Bagi Jakarta secara khusus, kesinambungan data AWC dari tahun ke tahun sangat penting. Kawasan seperti Suaka Margasatwa Muara Angke dan Hutan Lindung Angke Kapuk berada dalam tekanan pembangunan yang besar. Data historis yang kuat adalah argumen ilmiah terkuat untuk mempertahankan status perlindungan kawasan-kawasan ini dari perubahan peruntukan lahan.

Poin-poin penting:

  • Data AWC Jakarta dimasukkan ke IWC Portal untuk analisis populasi global.
  • Hasil sensus mendukung penetapan dan pemeliharaan status kawasan Ramsar dan EAAFP Network Sites.
  • Kesinambungan data tahunan AWC menjadi argumen ilmiah untuk melindungi kawasan pesisir Jakarta.
  • AWC 2026 merupakan edisi ke-40 program ini — fondasi data selama empat dekade yang sangat berharga.

Baca Juga 5 Gajah Sumatera Pindah Gunung Raya 2026


FAQ Seputar AWC 2026 Catat 99 Spesies Burung Pesisir Jakarta

Apa itu Asian Waterbird Census (AWC)?

Asian Waterbird Census (AWC) adalah program sensus burung air tahunan yang dikoordinasikan oleh Wetlands International. Menurut Wetlands International (2026), program ini telah berjalan sejak 1987 dan mencakup seluruh kawasan Asia hingga Australasia sebagai bagian dari International Waterbird Census (IWC) global. AWC 2026 adalah edisi ke-40 dari program ini.

Kapan AWC 2026 dilaksanakan di Jakarta?

Menurut Republika (2026), sensus AWC 2026 di Jakarta dilaksanakan pada 14 Februari 2026, pukul 07.00–17.00 WIB. Pengamatan dilakukan serentak di tiga kawasan: HLAK, TWA Angke Kapuk, dan Suaka Margasatwa Muara Angke. Di tingkat nasional, AWC Indonesia berlangsung sepanjang Januari–Februari 2026.

Berapa total spesies burung yang ditemukan dalam AWC 2026 di Jakarta?

AWC 2026 Catat 99 Spesies Burung Pesisir Jakarta, yakni 99 jenis burung dengan ratusan individu yang tercatat di tiga kawasan pesisir. Menurut Pasjabar (2026), rinciannya: 38 jenis di HLAK (289 individu), 34 jenis di TWA Angke Kapuk (117 individu), dan 27 jenis di SMMA (126 individu).

Siapa penyelenggara AWC 2026 di Jakarta?

AWC 2026 di Jakarta diselenggarakan oleh Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI bekerja sama dengan berbagai komunitas dan lembaga, termasuk Saka Wanabakti DKI, Kelompok Studi Hidupan Liar Comata UI, KPB Nycticorax UNJ, KPB Nectarinia UIN Jakarta, serta didukung BKSDA DKI Jakarta. Total 83 relawan muda dilibatkan dalam kegiatan ini.

Apa pentingnya data AWC 2026 bagi konservasi?

Menurut Rika Anggraini, Direktur Komunikasi dan Kemitraan KEHATI (2026), data AWC berkontribusi pada pembaruan basis data nasional dan regional populasi burung air, penting untuk mendeteksi tren penurunan dan perubahan pola migrasi. Secara internasional, data ini masuk ke IWC Portal dan mendukung penetapan kawasan Ramsar serta EAAFP Network Sites.

Spesies burung apa saja yang berhasil diamati?

Berdasarkan laporan Republika (2026), beberapa spesies yang terpantau antara lain blekok sawah (Ardeola speciosa), pecukpadi hitam (Phalacrocorax sulcirostris), pecukular asia (Anhinga melanogaster), cangak abu (Ardea cinerea), dan cangak merah (Ardea purpurea). Kehadiran spesies-spesies ini menjadi indikator kesehatan ekosistem lahan basah pesisir Jakarta.

Apakah AWC 2026 hanya dilakukan di Jakarta?

Tidak. Menurut Wetlands International South Asia (2026), AWC 2026 adalah program lintas negara yang berlangsung serentak di seluruh Asia dan Australasia. Di Indonesia, AWC berlangsung di berbagai habitat lahan basah dari Januari hingga Februari 2026. Jakarta adalah salah satu titik penting, namun bukan satu-satunya lokasi di Indonesia.


Kesimpulan

AWC 2026 Catat 99 Spesies Burung Pesisir Jakarta membuktikan dua hal sekaligus: ekosistem lahan basah pesisir Jakarta masih memiliki nilai ekologis yang signifikan, dan generasi muda Indonesia semakin mampu menjalankan pemantauan lingkungan berbasis ilmu pengetahuan. Dari 83 relawan yang turun lapangan pada 14 Februari 2026, lahirlah data yang akan berguna tidak hanya untuk Jakarta, tetapi juga untuk konservasi burung air di tingkat Asia bahkan global.

Untuk memahami lebih lanjut tentang keanekaragaman hayati pesisir Indonesia dan upaya konservasi lahan basah, jelajahi artikel-artikel terkait di shercat.com.


Tentang Penulis: Artikel ini ditulis oleh shercat.com berdasarkan laporan jurnalistik dari sumber-sumber terverifikasi pada Februari 2026 dengan komitmen penuh pada akurasi data dan prinsip zero fabrication.


Referensi

  1. Republika ESG Now. (2026). Sensus AWC 2026 Temukan 99 Jenis Burung di Pesisir Jakarta
  2. Trubus. (2026). Asian Waterbird Census 2026 di Jakarta: 83 Anak Muda Sensus Burung Air di Pesisir
  3. Pasjabar. (2026). Biodiversity Warriors Gelar Asian Waterbird Census di Jakarta.
  4. Wetlands International Indonesia. (2026). Asian Waterbird Census.
  5. Wetlands International South Asia. (2026). Asian Waterbird Census 2026
  6. East Asian–Australasian Flyway Partnership (EAAFP). (2024). Asian Waterbird Census.