Populasi gajah Sumatera kini berada di titik kritis dengan estimasi hanya tersisa 1.300-1.500 individu di alam liar menurut data WWF 2024. Di Bentang Alam Seblat, Bengkulu, situasinya bahkan lebih mengkhawatirkan—dari 150-200 individu pada tahun 1990, populasi menyusut drastis hingga diperkirakan kurang dari 50 individu pada 2024. Ini bukan sekadar statistik, melainkan alarm keras bahwa gajah Sumatera terancam punah habitat rusak konservasi mendesak adalah kenyataan yang kita hadapi hari ini.
Deforestasi di Sumatera mencapai 78.030,6 hektare sepanjang 2024—hampir separuh dari total deforestasi nasional. Riau menjadi penyumbang terbesar dengan 29.702,1 hektare hutan hilang dalam setahun. Fragmentasi habitat memaksa gajah terisolasi dalam kantong-kantong kecil, meningkatkan konflik dengan manusia dan ancaman kepunahan lokal. Artikel ini menyajikan 6 fakta krusial berbasis data terkini tentang krisis yang dihadapi satwa ikonik Indonesia ini.
Data Populasi Gajah Sumatera Terkini 2024-2025

Berdasarkan data WWF 2024, populasi gajah Sumatera kini hanya tersisa sekitar 1.300–1.400 ekor, turun drastis dari 2.400–2.800 individu pada tahun 2007. Penurunan ini menunjukkan laju kepunahan yang mengkhawatirkan dalam kurun waktu kurang dari dua dekade. Status IUCN menempatkan gajah Sumatera pada kategori Critically Endangered (Kritis) sejak beberapa tahun lalu.
Di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, situasinya sedikit lebih baik. Kepala Balai TNWK melaporkan sekitar 261 gajah hidup di kawasan tersebut pada 2024, dengan populasi liar diperkirakan mencapai 160-180 ekor dan 61 ekor gajah captive di Pusat Latihan Gajah dan Elephant Response Unit. Namun di Bentang Seblat, Bengkulu, Wakil Menteri Kehutanan mengungkapkan populasi gajah Sumatera di wilayah tersebut kini tersisa sekitar 25 ekor akibat terdesak perambahan hutan oleh perkebunan sawit.
Kondisi paling mengkhawatirkan terjadi di kantong-kantong habitat yang terfragmentasi. Data menunjukkan jumlah kantong habitat gajah menyusut dari 44 kantong pada 2007 menjadi hanya 22 kantong pada 2021. Fragmentasi ini memisahkan populasi gajah dalam kelompok-kelompok kecil yang rentan terhadap kepunahan lokal dan menurunnya keragaman genetik.
Deforestasi Masif: Penyebab Utama Habitat Hancur

Data Kementerian Kehutanan 2025 mencatat deforestasi netto di hutan Sumatera mencapai 78.030,6 hektare sepanjang 2024—hampir separuh dari total deforestasi nasional yang mencapai 175.437,7 hektare. Ini setara dengan hilangnya hutan seluas 50 kali lapangan sepakbola setiap jam. Provinsi Riau menjadi penyumbang terbesar dengan 29.702,1 hektare, diikuti Aceh (11.208,5 hektare), Jambi (8.290,6 hektare), Sumatera Utara (7.034,9 hektare), dan Sumatera Barat (6.634,2 hektare).
Analisis Auriga Nusantara mengungkap fakta mengejutkan: sebanyak 59 persen atau 153.498 hektare deforestasi terjadi akibat konsesi yang diberikan pemerintah, tersebar untuk konsesi kebun kayu, konsesi logging, konsesi tambang, dan konsesi sawit. Ini menunjukkan deforestasi legal—bukan ilegal—menjadi masalah utama perusakan habitat gajah Sumatera.
Lebih tragis lagi, sebanyak 62 persen atau 160.925 hektare deforestasi terjadi pada habitat delapan megafauna ikonik Indonesia, termasuk gajah Sumatera. Data Forest Watch Indonesia (FWI) menambahkan bahwa dalam kurun 2023-2024 saja, Region Sumatera kehilangan sekitar 222.000 hektare hutan alam—angka yang melonjak tajam setelah sempat menurun pada periode sebelumnya.
Menurut dokumen Rencana Tindakan Mendesak (RTM) 2020-2023, habitat gajah sumatera di Indonesia secara keseluruhan telah mengalami penyusutan hingga 80%, terutama di luar kawasan konservasi. Perkebunan sawit menjadi ancaman terbesar dengan luas tutupan sawit di dalam kawasan hutan Bentang Alam Seblat meningkat dari 2.657 hektare pada tahun 2000 menjadi 9.884 hektare pada tahun 2020.
Konflik Manusia-Gajah yang Terus Meningkat

Konflik manusia dengan gajah Sumatera terus meningkat seiring menyempitnya habitat. Di Sumatera Selatan, konflik mencapai puncaknya pada Juli 2024 ketika seorang perempuan bernama Karsini (34 tahun) menjadi korban serangan gajah di kawasan habitat yang terusik kehadiran manusia. Kasus serupa terjadi berulang di berbagai wilayah Sumatera sepanjang 2024-2025.
Januari 2025 menyaksikan pembentukan Tim Pagar Rapat di lima desa rawan interaksi gajah di Sumatera Selatan, dengan lima orang relawan per desa yang dibina menjadi pasukan reaksi cepat untuk memitigasi potensi konflik. Program ini dilengkapi dengan pemasangan GPS collar pada gajah dan dua menara pantau di Desa Simpang Heran (2022) dan Desa Jadi Mulya yang baru diresmikan pada 25 Januari 2025.
Di Jambi, konflik menahun berujung pada perusakan fasilitas konservasi satwa pada 26-27 Februari 2024, ketika massa merusak kendaraan operasional BKSDA Jambi dan mes mitra FZS di Tanjung Jabung Barat karena keresahan terhadap kerusakan kebun sawit akibat gajah. Konflik yang berlangsung sejak 2020 ini menunjukkan betapa kompleksnya permasalahan koeksistensi manusia dan gajah.
Pakar konservasi IPB University menekankan bahwa insiden seperti anak gajah tertabrak truk di Tol Pekanbaru-Dumai menunjukkan tingginya risiko akibat tumpang-tindih antara habitat satwa liar dan infrastruktur manusia. Jalur migrasi gajah yang terpotong oleh pembangunan jalan dan perkebunan memaksa mereka melewati area berisiko tinggi.
Kematian Gajah: Data Mengejutkan dari Lapangan

Data kematian gajah Sumatera sepanjang 2024-2025 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, tercatat 23 kasus kematian gajah sumatera sejak tahun 2015 sampai Juni 2025. Kepala BBKSDA Riau mengonfirmasi berbagai penyebab kematian mulai dari racun, jerat, hingga konflik dengan manusia.
Situasi lebih tragis terjadi sepanjang 2025 di Riau. Dalam kurun waktu hanya tujuh bulan, tiga ekor anak gajah betina—Yuni, Tari, dan Nurlela—harus meregang nyawa. Gajah Tari yang lahir 31 Agustus 2023 meninggal pada 10 September 2025 akibat Virus EEHV (Elephant Endotheliotropic Herpes Virus) yang dikenal sebagai pembunuh ganas anak gajah. Kematian terakhir menimpa Nurlela, bayi gajah berusia 1 tahun 6 bulan, pada 22 November 2025 di Pusat Konservasi Gajah Sebanga, Bengkalis.
Kehilangan tiga individu betina dalam waktu singkat menjadi pukulan telak bagi upaya konservasi mengingat peran vital betina dalam regenerasi populasi. Di Bentang Alam Seblat, seekor gajah ditemukan mati pada Januari 2024 dengan lubang berukuran 15 milimeter di bawah rahang yang tembus hingga tulang dahi, dan sepasang gadingnya hilang—mengindikasikan perburuan untuk gading.
Banjir besar yang melanda Sumatera akhir November 2025 juga menambah korban. Bangkai gajah Sumatera ditemukan di antara puing-puing kayu di Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, diduga terseret banjir dari hutan di bagian hulu sungai—bukti nyata bagaimana kerusakan ekosistem hutan berdampak langsung pada kehidupan satwa liar.
Program Konservasi dan Teknologi Penyelamatan

Program konservasi gajah Sumatera mengalami perkembangan signifikan dengan pemanfaatan teknologi. Di Taman Nasional Way Kambas, upaya konservasi berbasis data ilmiah menunjukkan komitmen kuat dari berbagai pihak, dengan pendekatan terintegrasi mencakup patroli intensif, perlindungan habitat, serta dukungan dari masyarakat dan mitra konservasi. Hasilnya, populasi gajah liar di TNWK cenderung stabil bahkan menunjukkan tren positif.
Teknologi GPS collar menjadi instrumen penting dalam monitoring pergerakan gajah. Pemasangan GPS collar di Sumatera Selatan memungkinkan masyarakat dan perusahaan mengetahui keberadaan kawanan gajah, sehingga bisa menyiapkan waktu untuk menghindari atau menyiapkan strategi penghalauan yang aman. Sistem ini terbukti efektif mengurangi konflik dengan memberikan early warning kepada masyarakat.
Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada mengembangkan inovasi deteksi dini konflik yang lebih canggih. Melalui pendanaan TFCA-Sumatra, dikembangkan sistem informasi berbasis WebGIS yang memanfaatkan mobile applications dan bioakustik di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh-Jambi sejak awal 2022. Bioakustik memungkinkan deteksi keberadaan gajah dari jarak jauh melalui sinyal vokalisasi mereka.
Di Way Kambas, kerja sama antara KLHK dan ITB menghasilkan platform mitigasi konflik yang komprehensif. Pada 24-25 Januari 2024, pertemuan di Balai TNWK menghasilkan kesepakatan perpanjangan MOU untuk pengembangan sistem deteksi dini konflik, melibatkan berbagai stakeholder untuk membangun solusi terukur dan berkelanjutan.
Pendekatan kolaboratif juga dikembangkan di Sumatera Selatan dengan angka kelahiran gajah yang cukup tinggi—11 gajah lahir di Lanskap Air Sugihan-Simpang Heran dalam 10 tahun terakhir, salah satu yang tertinggi di Indonesia. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa dengan habitat yang terjaga dan mitigasi konflik yang baik, populasi gajah masih bisa pulih.
Aksi Nyata Gen Z untuk Konservasi Gajah
Gen Z Indonesia memiliki peran strategis dalam mendorong konservasi gajah Sumatera melalui berbagai jalur. Consumer activism menjadi kunci—memilih produk dengan sertifikasi RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) atau ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) secara langsung mendorong praktik perkebunan yang ramah habitat gajah. Setiap pembelian adalah suara untuk konservasi.
Volunteer program seperti “Gajah Guardian Camp” membuka kesempatan langsung terlibat dalam patroli hutan, monitoring satwa, dan edukasi masyarakat. Program adopsi virtual gajah melalui platform konservasi memungkinkan dukungan finansial mulai dari nominal terjangkau, dengan transparansi penggunaan dana untuk perawatan dan monitoring individu gajah yang terancam.
Content creation untuk edukasi konservasi terbukti sangat efektif menjangkau audiens luas. Campaign di media sosial dengan hashtag seperti #SelamatkanGajahKita bisa mencapai jutaan views dan meningkatkan awareness signifikan di kalangan usia 18-24 tahun. Video edukatif, infografis data populasi, dan storytelling tentang kehidupan gajah di habitat alami mereka dapat mengubah persepsi dan mendorong aksi nyata.
Petisi online untuk penghentian izin konsesi yang merusak habitat gajah juga menunjukkan hasil. Dengan mengumpulkan ratusan ribu tanda tangan, tekanan publik dapat mendorong revisi kebijakan yang merugikan konservasi. Gen Z yang melek digital memiliki kemampuan unik untuk memobilisasi massa dan mempengaruhi kebijakan melalui kampanye online yang terorganisir.
Dukungan terhadap penelitian konservasi juga penting. Mendukung institusi seperti UGM, IPB, atau NGO konservasi yang mengembangkan teknologi monitoring dan mitigasi konflik dapat mempercepat upaya penyelamatan. Bahkan sharing artikel ilmiah atau laporan konservasi di media sosial membantu memperluas jangkauan informasi berbasis data.
Baca Juga Pusat Rehabilitasi Orangutan Terbesar Indonesia: Nyaru Menteng & Tanjung Puting
Titik Kritis Penyelamatan Gajah Sumatera
Gajah Sumatera terancam punah habitat rusak konservasi mendesak bukan sekadar slogan, melainkan realitas berbasis data yang kita hadapi hari ini. Dengan populasi hanya 1.300-1.500 individu dan deforestasi yang masih mencapai puluhan ribu hektare per tahun, kita berada di titik kritis. Namun data juga menunjukkan bahwa kombinasi teknologi monitoring, program mitigasi konflik berbasis masyarakat, dan penegakan hukum yang konsisten dapat memberikan hasil positif.
Kasus Way Kambas dengan populasi stabil dan Sumatera Selatan dengan angka kelahiran tinggi membuktikan bahwa penyelamatan gajah Sumatera masih mungkin—jika ada political will, pendanaan memadai, dan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat terutama generasi muda. Setiap pilihan konsumen, setiap suara di media sosial, setiap dukungan untuk penelitian konservasi adalah kontribusi nyata untuk masa depan spesies ikonik ini.
Berdasarkan data faktual yang telah dipaparkan, bagian mana yang paling menggerakkanmu untuk bertindak? Atau apakah kamu punya ide konkret untuk mendukung konservasi gajah Sumatera? Mari diskusikan di kolom komentar—setiap perspektif berharga untuk memperkuat gerakan penyelamatan ini!
Referensi Data Terbaru:
- Kementerian Kehutanan RI (2025). Statistik Kehutanan 2025
- World Wildlife Fund Indonesia (2024). Status Gajah Sumatera
- Auriga Nusantara (2025). Status Deforestasi Indonesia 2024
- BBKSDA Riau (2025). Laporan Kematian Gajah TNTN
- Kompas.id (2025). Laporan Populasi Gajah Way Kambas
- Green Network Asia (2025). Kondisi Habitat Gajah Bentang Seblat
- Forest Watch Indonesia (2024). Laju Deforestasi Sumatera