shercat – Bagi banyak orang, kunang-kunang adalah bagian dari kenangan masa kecil. Serangga kecil yang memancarkan cahaya di malam hari itu dulu mudah ditemukan di area persawahan, kebun, hingga pinggir sungai. Namun kini, kelangkahan pemandangan tersebut semakin sulit dijumpai. Tidak sedikit masyarakat yang mengaku sudah bertahun-tahun tidak melihat kunang-kunang di lingkungan tempat tinggal mereka.
Fenomena ini ternyata bukan sekadar nostalgia. Para ahli menyebut berkurangnya populasi kunang-kunang menjadi salah satu tanda bahwa kualitas lingkungan mengalami penurunan. Serangga bercahaya ini dikenal sangat sensitif terhadap perubahan habitat, sehingga keberadaan maupun ketidakhadirannya dapat mencerminkan kondisi suatu ekosistem.
Kunang-Kunang Merupakan Bioindikator
Menurut pakar entomologi dari IPB University, Prof. Upik Kesumawati Hadi, kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang dapat menunjukkan kondisi kesehatan lingkungan.
Apabila kualitas lingkungan memburuk, populasi kunang-kunang akan cepat menyusut bahkan menghilang. Karena itulah, semakin sulitnya menemukan serangga ini tidak boleh dianggap sebagai hal biasa, melainkan sebagai alarm bahwa ekosistem sedang mengalami tekanan.
Kerusakan Habitat Menjadi Penyebab Utama

Salah satu faktor terbesar yang menyebabkan kunang-kunang semakin langka adalah hilangnya habitat alami mereka.
Alih fungsi lahan hijau menjadi kawasan permukiman, industri, maupun infrastruktur membuat area lembap yang dibutuhkan larva kunang-kunang semakin berkurang. Padahal, fase larva merupakan bagian penting dalam siklus hidup serangga ini.
Kunang-kunang membutuhkan lingkungan yang lembap, minim gangguan, dan kaya bahan organik. Ketika habitat tersebut hilang, peluang mereka untuk berkembang biak ikut menurun.
Polusi Cahaya Mengganggu Proses Kawin
Selain kerusakan habitat, polusi cahaya juga menjadi ancaman serius.
Kunang-kunang menggunakan cahaya yang dipancarkan tubuhnya sebagai alat komunikasi untuk menarik pasangan. Lampu jalan, papan reklame, hingga pencahayaan permukiman yang terlalu terang membuat sinyal cahaya alami mereka sulit dikenali.
Akibatnya, proses perkawinan terganggu dan keberhasilan reproduksi menurun. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan populasi terus menyusut dari tahun ke tahun.
Penggunaan Pestisida Ikut Berdampak
Praktik pertanian modern yang mengandalkan pestisida juga memberikan dampak terhadap populasi kunang-kunang.
Larva kunang-kunang hidup di tanah maupun area yang lembap dan memangsa siput kecil, cacing, serta organisme lainnya. Paparan bahan kimia dari pestisida dapat membunuh larva secara langsung maupun mengurangi ketersediaan makanan mereka.
Semakin intensif penggunaan pestisida, semakin besar pula tekanan terhadap populasi kunang-kunang di alam.
Perubahan Iklim Memperburuk Kondisi
Perubahan iklim juga menjadi faktor yang ikut memengaruhi kelangsungan hidup kunang-kunang.
Perubahan pola curah hujan, meningkatnya suhu, hingga cuaca ekstrem dapat mengubah kelembapan habitat yang dibutuhkan selama siklus hidup mereka. Kondisi tersebut membuat sebagian spesies kesulitan beradaptasi sehingga populasinya terus menurun.
Kelangkahan Terjadi Secara Global
Fenomena berkurangnya kunang-kunang tidak hanya terjadi di Indonesia.
IPB University mengungkapkan bahwa berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), sekitar 11–20 persen spesies kunang-kunang yang telah dievaluasi berada dalam kondisi terancam, termasuk beberapa spesies di kawasan Asia Tenggara. Artinya, penurunan populasi kunang-kunang merupakan persoalan global yang membutuhkan perhatian bersama.
Mengapa Kita Perlu Peduli? Banyak orang menganggap kunang-kunang hanya sebagai serangga hias malam. Padahal, keberadaannya memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Sebagai predator bagi beberapa hewan kecil, kunang-kunang membantu menjaga keseimbangan rantai makanan. Selain itu, keberadaan mereka juga menjadi indikator bahwa kualitas tanah, air, dan vegetasi di suatu wilayah masih terjaga dengan baik.
Ketika kunang-kunang mulai menghilang, hal tersebut dapat menjadi pertanda adanya masalah lingkungan yang lebih besar.
Menjaga populasi kunang-kunang sebenarnya dapat dimulai dari langkah sederhana.
Mengurangi penggunaan pestisida secara berlebihan, mempertahankan ruang terbuka hijau, menjaga area lembap seperti rawa atau persawahan, serta mengurangi pencahayaan luar ruangan yang tidak diperlukan pada malam hari dapat membantu menciptakan habitat yang lebih ramah bagi kunang-kunang.
Selain itu, meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga keanekaragaman hayati juga menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian serangga unik ini.
Semakin langkanya kunang-kunang bukan hanya membuat malam kehilangan keindahan cahaya alaminya, tetapi juga menjadi peringatan bahwa kualitas lingkungan sedang mengalami penurunan. Kerusakan habitat, polusi cahaya, penggunaan pestisida, hingga perubahan iklim menjadi kombinasi faktor yang mengancam kelangsungan hidup serangga bercahaya tersebut.
Menjaga keberadaan kunang-kunang berarti ikut menjaga kesehatan ekosistem. Dengan melindungi habitat alami dan mengurangi tekanan terhadap lingkungan, kita tidak hanya memberi kesempatan bagi kunang-kunang untuk kembali berkembang, tetapi juga mewariskan alam yang lebih sehat bagi generasi mendatang.
Referensi
- IPB University – Kunang-Kunang Kian Langka, Pakar IPB University: Alarm Menurunnya Kualitas Lingkungan: https://www.ipb.ac.id/news/index/2026/06/kunang-kunang-kian-langka-pakar-ipb-university-alarm-menurunnya-kualitas-lingkungan/
- detikEdu – Pakar IPB Ungkap Populasi Kunang-kunang Makin Langka, Apa Penyebabnya? https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-8541195/pakar-ipb-ungkap-populasi-kunang-kunang-makin-langka-apa-penyebabnya
- detikInet – Kunang-kunang Makin Sulit Ditemukan, Ini Penyebabnya: https://inet.detik.com/science/d-8574879/kunang-kunang-makin-sulit-ditemukan-ini-penyebabnya
- RRI – Kunang-Kunang Semakin Sulit Ditemukan, Ini Penyebabnya: https://rri.co.id/ranai/berita-lain/1592132/kunang-kunang-semakin-sulit-ditemukan-ini-penyebabnya