Ringkasan: Gajah sumatera jinak Jovi (46), andalan Balai Besar KSDA (BBKSDA) Riau dalam menangani konflik gajah liar dan manusia selama 28 tahun, mati Senin (3/8/2026) malam. Kondisinya sempat membaik pada hari keenam perawatan sebelum akhirnya memburuk akibat myopathy berat.
Apa yang Terjadi pada Gajah Jovi?

Gajah sumatera jinak bernama Jovi, berusia sekitar 46 tahun, dinyatakan mati pada Senin (3/8/2026) pukul 20.47 WIB di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak, Riau. Kematian terjadi setelah Jovi menjalani perawatan intensif selama 34 hari oleh tim dokter hewan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau. Penyebabnya diduga komplikasi infeksi saluran pencernaan dan saluran pernapasan atas yang berkembang menjadi myopathy, yakni gangguan berat pada jaringan otot yang membuat gajah tidak mampu menopang tubuhnya sendiri.
Siapa Jovi dan Mengapa Ia Penting bagi Konservasi Riau?

Jovi berasal dari Kabupaten Indragiri Hulu dan bergabung dengan PLG Minas sejak 18 Februari 1998 — artinya ia telah mengabdi selama 28 tahun sebelum wafat. Selama masa itu, Jovi menjadi salah satu gajah binaan andalan dalam berbagai operasi mitigasi konflik antara manusia dan gajah liar di sejumlah wilayah Provinsi Riau, sebuah persoalan yang hingga kini masih terus berulang di kawasan seperti Suaka Margasatwa Balai Raja, habitat gajah sumatera lain di provinsi yang sama.
Pelaksana Harian Kepala BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, menyebut Jovi sebagai gajah binaan terbaik yang jasanya “tak tergantikan” dalam penanganan konflik satwa liar di Riau.
Kronologi 34 Hari Perawatan Intensif

Gejala sakit pada Jovi pertama kali terlihat sejak 1 Juli 2026. Tim medis BBKSDA Riau langsung memberikan penanganan sesuai prosedur standar: terapi cairan infus 24 jam, vitamin, antibiotik, antiinflamasi, asam amino, hingga terapi suportif lain, disertai pemantauan klinis dan laboratorium berkala.
Perawatan sempat menunjukkan hasil positif. Koordinator Tim Medis BBKSDA Riau, drh Rini Deswita, menjelaskan kekakuan pada kaki, belalai, dan ekor Jovi berangsur berkurang, nafsu makannya membaik, bahkan pada hari keenam perawatan ia sempat mampu berdiri dan berjalan beberapa langkah. Hasil pemeriksaan darah berkala juga menunjukkan tingkat infeksi dalam tubuhnya menurun setelah terapi.
Namun perbaikan itu tidak bertahan lama. Kondisi otot Jovi terus memburuk hingga myopathy berat kembali muncul dan membuatnya tak lagi mampu berdiri. Pada Minggu (2/8/2026), Jovi berhenti makan dan minum. Keesokan harinya, Senin (3/8/2026) sekitar pukul 16.00 WIB, suhu tubuhnya meningkat hingga sekitar 40 derajat Celsius. Tim medis terus memberi terapi cairan lewat infus serta pemberian cairan oral dan rektal. Sekitar pukul 20.43 WIB, Jovi mengalami tremor hebat, dan empat menit kemudian, pukul 20.47 WIB, ia dinyatakan mati.
Penyebab Kematian: Dugaan Sementara dan Nekropsi

BBKSDA Riau menyebut penyebab kematian Jovi diduga sementara adalah komplikasi infeksi saluran pencernaan dan saluran pernapasan atas yang berkembang menjadi myopathy berat. Untuk memastikan penyebab pasti secara ilmiah, tim medis melakukan nekropsi serta mengambil sampel organ dan jaringan untuk pemeriksaan laboratorium lebih lanjut. Hasil final nekropsi belum dipublikasikan per artikel ini diperbarui.
Dampak bagi Konservasi Gajah Sumatera di Riau

Kematian Jovi menambah daftar tekanan yang dihadapi populasi gajah sumatera, spesies yang sudah di ambang kepunahan akibat kombinasi konflik dengan manusia dan penyusutan habitat. BBKSDA Riau mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian gajah sumatera lewat perlindungan habitat, pengurangan konflik manusia-satwa, dan dukungan pada program konservasi — sejalan dengan upaya pemerintah membangun koridor satwa seperti koridor gajah seluas 2.217 hektare di Seblat dan relokasi kawanan gajah ke kawasan konservasi seperti yang terjadi pada lima gajah sumatera yang dipindahkan ke Gunung Raya awal 2026.
Persoalan konflik satwa-manusia di Sumatera memang bukan kasus tunggal. Ia terkait erat dengan krisis di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang menunjukkan pola serupa: tekanan habitat memaksa satwa liar mendekati permukiman, sementara gajah binaan seperti Jovi menjadi garda depan mitigasi di lapangan.
FAQ — Gajah Jovi
Kapan Gajah Jovi mati?
Jovi mati pada Senin, 3 Agustus 2026, sekitar pukul 20.47 WIB di PLG Minas, Kabupaten Siak, Riau, setelah 34 hari perawatan intensif.
Berapa lama Jovi mengabdi di Riau?
Jovi bergabung dengan PLG Minas sejak 18 Februari 1998, sehingga ia mengabdi sekitar 28 tahun dalam penanganan konflik gajah-manusia di Riau.
Apa penyebab kematian Jovi?
BBKSDA Riau menyebut dugaan sementara adalah komplikasi infeksi saluran pencernaan dan pernapasan atas yang berkembang menjadi myopathy berat. Hasil nekropsi resmi masih menunggu pemeriksaan laboratorium lanjutan.
Sumber: keterangan resmi BBKSDA Riau melalui Plh Kepala BBKSDA Riau Ujang Holisudin dan Koordinator Tim Medis drh Rini Deswita, sebagaimana diberitakan Kompas.com, Tribun Pekanbaru, Riau Pos, JPNN, dan Beritariau.com.