Badak Putih Utara hampir punah dan kini hanya tersisa dua betina. Simak penyebab kepunahannya dan upaya ilmuwan menyelamatkan spesies ini.
shercat – Bayangin satu jenis hewan besar yang dulunya hidup di alam liar, lalu jumlahnya terus menyusut sampai akhirnya tinggal dua ekor di seluruh dunia. Sounds like plot film sci-fi, tapi ini real.
Mereka adalah Badak Putih Utara atau Northern White Rhino (Ceratotherium simum cottoni), salah satu mamalia paling terancam di planet ini. Saat ini hanya ada dua individu yang masih hidup, yaitu Najin dan Fatu, dan keduanya merupakan betina yang tinggal di Ol Pejeta Conservancy, Kenya.
Situasinya bahkan lebih complicated karena keduanya tidak dapat menghasilkan keturunan secara alami. Pejantan terakhir Badak Putih Utara, Sudan, meninggal pada 2018. Sejak saat itu, reproduksi alami praktis tidak lagi mungkin dilakukan.
Secara biologis, kondisinya sudah berada di titik yang disebut functionally extinct atau punah secara fungsional. Namun para ilmuwan belum menyerah. Teknologi fertilisasi in vitro, penyimpanan embrio, induk pengganti, hingga penelitian stem cell kini menjadi harapan terakhir untuk membawa Badak Putih Utara kembali dari ujung kepunahan.
Dan surprisingly, per April 2026, harapan itu masih ada.
Badak Putih Utara merupakan subspesies badak putih yang secara historis hidup di wilayah Afrika bagian tengah dan timur.
Meskipun namanya white rhino, warna tubuhnya sebenarnya bukan putih.
Nama tersebut sering dikaitkan dengan istilah Afrikaans yang merujuk pada bentuk mulutnya yang lebar, meskipun sejarah etimologinya tidak sepenuhnya sederhana. Badak putih memiliki moncong lebar dan relatif datar yang cocok untuk memakan rumput.
Secara taksonomi, badak putih biasanya dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu Badak Putih Selatan (southern white rhino) dan Badak Putih Utara.
Nasib keduanya sekarang sangat berbeda.
Badak Putih Selatan masih memiliki populasi yang jauh lebih besar, sementara kelompok utara tinggal dua individu.
That’s how close extinction can get.
Tinggal Dua Badak Putih Utara: Najin dan Fatu

Dua Badak Putih Utara terakhir yang diketahui masih hidup adalah Najin dan putrinya, Fatu.
Keduanya tinggal di Ol Pejeta Conservancy, Kenya, dengan penjagaan dan perawatan intensif.
Najin lahir pada 1989, sementara Fatu merupakan anaknya. Keduanya sebelumnya dipindahkan bersama beberapa Badak Putih Utara lainnya dari Safari Park Dvůr Králové di Republik Ceko menuju Kenya pada 2009 dengan harapan lingkungan yang lebih alami dapat membantu program reproduksi.
Sayangnya, upaya reproduksi alami tidak berhasil.
Pada 2014, Najin dan Fatu diketahui memiliki gangguan reproduksi serius yang membuat keduanya tidak mampu menghasilkan kehamilan secara alami.
Artinya, sekalipun masih ada sperma Badak Putih Utara yang disimpan dari pejantan yang telah mati, kedua betina tersebut tidak dapat begitu saja dikawinkan dan melahirkan anak.
The biology basically said no.
Karena itu, ilmuwan harus mencari jalan lain.
Kematian Sudan Menjadi Titik Balik
Nama Sudan sempat menjadi simbol global krisis Badak Putih Utara.
Ia dikenal sebagai pejantan terakhir subspesies tersebut.
Sudan merupakan ayah Najin dan kakek Fatu. Setelah kondisinya memburuk akibat masalah kesehatan terkait usia, Sudan mati pada Maret 2018.
Sejak kematiannya, tidak ada lagi pejantan Badak Putih Utara yang masih hidup.
Itu berarti reproduksi alami sudah impossible.
Namun sebelum beberapa pejantan Badak Putih Utara mati, ilmuwan telah menyimpan sperma mereka melalui cryopreservation.
Sperma tersebut kemudian menjadi salah satu aset paling precious dalam program penyelamatan Badak Putih Utara.
Quite literally, masa depan subspesies ini sekarang tersimpan di laboratorium.
Kenapa Badak Putih Utara Bisa Hampir Punah?
Kepunahan tidak terjadi overnight.
Badak Putih Utara mengalami kombinasi tekanan yang berlangsung selama puluhan tahun.
Salah satu faktor terbesar adalah perburuan liar.
Cula badak memiliki nilai tinggi dalam perdagangan ilegal dan telah lama menjadi target jaringan poaching. Meskipun cula sebagian besar tersusun dari keratin—protein yang juga terdapat pada rambut dan kuku manusia—permintaannya tetap tinggi karena berbagai kepercayaan dan penggunaannya sebagai simbol status.
Badak sangat vulnerable terhadap kondisi tersebut karena tingkat reproduksinya relatif lambat.
Seekor badak tidak menghasilkan banyak anak dalam waktu singkat. Jadi ketika jumlah individu dewasa turun dengan cepat akibat perburuan, populasi sulit melakukan recovery.
Selain poaching, konflik bersenjata dan ketidakstabilan politik di sebagian wilayah habitat historis Badak Putih Utara juga membuat konservasi menjadi sangat challenging.
Habitat sulit diamankan, petugas konservasi menghadapi risiko tinggi, sementara aktivitas ilegal menjadi lebih sulit dikendalikan.
By the time dunia benar-benar menyadari scale of the problem, jumlah mereka sudah sangat kecil.
Istilah functionally extinct sering digunakan untuk menggambarkan kondisi Badak Putih Utara.
Maksudnya, subspesies tersebut secara teknis belum benar-benar punah karena masih ada individu hidup.
Tetapi populasi tersebut tidak mampu mempertahankan dirinya melalui reproduksi alami.
Dalam kasus Badak Putih Utara, situasinya pretty clear.
Hanya tersisa Najin dan Fatu.
Keduanya betina.
Dan keduanya tidak mampu menjalani kehamilan secara alami.
Tanpa campur tangan teknologi, setelah Najin dan Fatu mati, Badak Putih Utara akan hilang sepenuhnya.
That’s the brutal reality.
Ilmuwan Mencoba IVF untuk Menyelamatkan Badak Putih Utara
Di sinilah ceritanya mulai masuk wilayah yang terasa hampir futuristic.
Program internasional BioRescue mengembangkan teknologi reproduksi berbantu untuk mencoba menyelamatkan Badak Putih Utara.
Prosesnya roughly seperti ini:
Sel telur diambil dari Badak Putih Utara betina.
Sel telur tersebut kemudian dimatangkan di laboratorium.
Setelah itu, dilakukan fertilisasi menggunakan sperma beku dari pejantan Badak Putih Utara yang telah mati.
Jika fertilisasi berhasil, embrio yang terbentuk disimpan melalui cryopreservation.
Karena Najin dan Fatu tidak dapat membawa kehamilan, embrio nantinya ditransfer ke Badak Putih Selatan betina sebagai surrogate mother atau induk pengganti.
Sounds simple when summarized in six sentences.
In reality, teknologinya extremely difficult.
Bahkan prosedur pengambilan sel telur dari badak harus dikembangkan secara khusus karena anatomi badak jauh berbeda dari hewan domestik yang biasa digunakan dalam teknologi reproduksi.
Pada Agustus 2019, ilmuwan berhasil mengambil sel telur dari Najin dan Fatu untuk pertama kalinya. Beberapa hari kemudian, embrio Badak Putih Utara berhasil dibuat.
It was a huge milestone.
Kini Sudah Ada 39 Embrio Badak Putih Utara
Perkembangan terbaru memberikan sedikit good news.
Pada awal 2026, ilmuwan kembali mengambil sel telur dari Fatu dan berhasil menghasilkan satu embrio Badak Putih Utara baru.
Dengan tambahan tersebut, jumlah embrio murni Badak Putih Utara yang berhasil dibuat mencapai 39 embrio.
Embrio-embrio ini menjadi semacam biological backup untuk subspesies tersebut.
Namun perlu digarisbawahi: memiliki embrio bukan berarti kita sudah memiliki bayi badak.
Langkah paling challenging berikutnya adalah membuat embrio tersebut berkembang menjadi kehamilan yang sukses pada induk pengganti.
Dan sampai April 2026, milestone itu masih belum tercapai untuk embrio Badak Putih Utara.
Percobaan Transfer Embrio Sudah Dilakukan
Pada paruh kedua 2025, tim BioRescue melakukan tiga transfer embrio Badak Putih Utara ke Badak Putih Selatan yang bertindak sebagai induk pengganti.
Sayangnya, tidak ada satu pun percobaan tersebut yang menghasilkan kehamilan jangka panjang.
Sounds disappointing, tetapi dalam dunia reproductive science, kegagalan seperti ini bukan berarti project-nya selesai.
IVF pada badak merupakan teknologi yang practically sedang dibangun sambil digunakan.
BioRescue mencatat bahwa sampai April 2026 mereka baru melakukan enam transfer embrio secara total dalam pengembangan teknologi tersebut.
Untuk meningkatkan peluang keberhasilan berikutnya, dua Badak Putih Selatan betina yang sebelumnya sudah terbukti mampu bereproduksi telah ditambahkan sebagai kandidat surrogate mother.
Basically, scientists are learning one transfer at a time.
Di antara dua Badak Putih Utara terakhir, Fatu memiliki peran biologis yang extremely important.
Saat ini, hanya Fatu yang masih digunakan sebagai donor sel telur.
Pengambilan sel telur dari Najin dihentikan pada 2021 setelah evaluasi etika dan risiko medis. Usianya yang lebih tua serta kondisi kesehatannya membuat prosedur tersebut dinilai tidak lagi memberikan balance risiko dan manfaat yang tepat.
Artinya, produksi embrio baru dari sel telur alami Badak Putih Utara sekarang bergantung pada Fatu.
Dan bahkan di sini ada limitation besar.
Prosedur pengambilan sel telur tidak bisa dilakukan continuously karena membutuhkan anestesi dan intervensi medis yang kompleks. BioRescue menyebut prosedur ini hanya dapat dilakukan beberapa kali dalam setahun dengan mempertimbangkan kesejahteraan hewan.
Every procedure matters.
Every egg matters.
Misalnya suatu hari ilmuwan berhasil menghasilkan anak Badak Putih Utara.
Problem belum selesai.
Populasi yang dibangun dari jumlah individu sangat sedikit akan menghadapi masalah keragaman genetik.
Sebagian besar embrio yang sudah dihasilkan berasal dari sel telur Fatu dan sperma beberapa pejantan yang telah mati.
Itu berarti genetic pool-nya sangat terbatas.
Dalam jangka panjang, populasi dengan keragaman genetik rendah dapat memiliki risiko lebih tinggi terhadap masalah kesehatan, penyakit, dan gangguan reproduksi.
Karena itu, BioRescue tidak hanya mengandalkan IVF.
Para ilmuwan juga mengembangkan pendekatan menggunakan stem cell technology dengan harapan suatu hari bisa menghasilkan sel reproduksi dari jaringan individu Badak Putih Utara yang telah disimpan sebelumnya.
BioRescue memiliki akses terhadap berbagai cell line Badak Putih Utara yang disimpan dalam cryobank. Menurut proyek tersebut, material biologis yang tersedia dapat memperluas gene pool dibanding hanya mengandalkan dua individu hidup.
This is where conservation meets biotechnology.
Apakah Badak Putih Selatan Bisa Melahirkan Badak Putih Utara?
Secara teori dan melalui program BioRescue, jawabannya adalah yes—that’s exactly the plan.
Badak Putih Selatan merupakan kerabat yang sangat dekat sehingga dipilih sebagai surrogate mother bagi embrio Badak Putih Utara.
Sebelum menggunakan embrio Badak Putih Utara, para ilmuwan terlebih dahulu mengembangkan dan menguji teknik transfer embrio menggunakan Badak Putih Selatan.
Ini menjadi sangat penting karena tidak ada manual IVF badak lengkap yang tinggal diikuti.
Setiap tahap—mulai dari pengambilan sel telur, fertilisasi, kultur embrio, sinkronisasi hormon hingga transfer embrio—harus dikembangkan khusus.
Kalau akhirnya Badak Putih Selatan berhasil melahirkan anak Badak Putih Utara, itu akan menjadi salah satu milestone paling remarkable dalam sejarah conservation science.
Pertanyaan ini sebenarnya valid.
Kenapa menghabiskan resources besar untuk menyelamatkan satu subspesies ketika banyak spesies lain juga terancam?
Ada beberapa jawabannya.
Pertama, kepunahan Badak Putih Utara largely bukan proses alami yang terjadi begitu saja. Aktivitas manusia, terutama perburuan liar dan tekanan terhadap habitat, memainkan peran besar.
Ada moral argument bahwa ketika manusia ikut menciptakan krisis, kita juga mempunyai tanggung jawab untuk mencoba memperbaikinya.
Kedua, badak merupakan bagian dari ekosistem.
Sebagai herbivora besar, mereka memengaruhi struktur vegetasi, distribusi nutrisi, serta landscape tempat berbagai organisme lain hidup.
Hilangnya megafauna dapat menghasilkan efek ekologis yang jauh lebih luas daripada sekadar kehilangan satu nama dari daftar spesies.
Ketiga, teknologi yang dikembangkan dalam project ini tidak hanya relevan untuk Badak Putih Utara.
Jika berhasil, metode assisted reproduction dan stem cell yang dikembangkan dapat menjadi blueprint untuk membantu spesies mamalia lain yang berada di ambang kepunahan. BioRescue sendiri melihat proyek tersebut sebagai dasar teknologi konservasi bagi spesies terancam lainnya.
So this isn’t just about two rhinos.
It’s also an experiment in how far humanity can go to reverse extinction.
Tapi Teknologi Tidak Bisa Menggantikan Konservasi
Ada satu point penting yang kadang hilang ketika membaca berita tentang IVF badak.
Teknologi bukan magic undo button.
Kita bisa mengembangkan fertilisasi buatan paling sophisticated di dunia, tetapi kalau habitat tetap dihancurkan dan poaching tetap terjadi, spesies yang berhasil dikembalikan tetap tidak mempunyai masa depan.
Karena itu, konservasi tradisional tetap essential.
Perlindungan habitat, penegakan hukum terhadap perdagangan satwa liar, pengamanan populasi, edukasi publik, keterlibatan masyarakat lokal, dan kerja sama internasional masih menjadi foundation.
Science can rescue a population.
But society still has to give that population somewhere safe to live.
Bisakah Badak Putih Utara Benar-Benar Diselamatkan?
Jawabannya sampai sekarang adalah: mungkin, tetapi belum pasti.
Posisi Badak Putih Utara sangat precarious.
Hanya tersisa dua betina hidup dan produksi sel telur alami saat ini bergantung pada Fatu. Upaya transfer embrio Badak Putih Utara belum menghasilkan kehamilan jangka panjang, sementara masalah genetic diversity akan tetap menjadi tantangan jika kelahiran berhasil dilakukan.
Namun situasinya juga tidak sepenuhnya hopeless.
Ada puluhan embrio yang sudah tersimpan, sperma pejantan terdahulu telah dibekukan, Badak Putih Selatan tersedia sebagai calon surrogate mother, dan penelitian stem cell terus berkembang.
Pada awal 2026 saja, satu embrio baru masih berhasil dibuat sehingga totalnya menjadi 39.
The door is still open.
Kecil, complicated, expensive—but open
Kisah Badak Putih Utara yang hampir punah terasa tragis karena kita sekarang bisa melihat proses kepunahan secara almost real-time.
Najin dan Fatu bukan dua badak random yang kebetulan terkenal.
Mereka adalah dua anggota terakhir dari garis kehidupan yang pernah menyebar di Afrika.
Ketika melihat foto keduanya sedang merumput di Kenya, sulit membayangkan bahwa secara natural tidak akan ada generasi berikutnya setelah mereka.
Namun di laboratorium, puluhan embrio masih menyimpan kemungkinan berbeda.
Maybe one day akan lahir seekor anak Badak Putih Utara dari surrogate Badak Putih Selatan. Lalu satu lagi. Kemudian teknologi stem cell mungkin memperluas genetic diversity mereka.
Atau mungkin upaya tersebut tidak berhasil.
Kita belum tahu.
Yang jelas, Badak Putih Utara memberikan satu lesson yang cukup uncomfortable: menyelamatkan spesies ketika tinggal dua individu jauh lebih sulit daripada melindunginya ketika masih ada ribuan.
Conservation is always cheaper before extinction becomes an emergency.
Referensi
- BioRescue. New embryo boosts survival chances for the Northern White Rhino, 22 April 2026. Informasi mengenai embrio terbaru, jumlah 39 embrio, dan perkembangan program transfer embrio.
- Ol Pejeta Conservancy. New embryo boosts survival chances for the Northern White Rhino, 22 April 2026. Update resmi mengenai Najin, Fatu, embrio, dan surrogate mother.
- BioRescue. FAQ – Northern White Rhino. Referensi mengenai infertilitas Najin dan Fatu, kematian pejantan terakhir, cryopreserved sperm, IVF, dan stem cell.
- BioRescue. BioRescue scientists produced three new embryos and began using northern white rhino embryos in embryo transfers, 25 Agustus 2025.