Satwa Mati karena Kebakaran Hutan Kalimantan: Ancaman Besar bagi Orangutan dan Kehidupan Liar!

“Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan cuma deretan pohon. Ada rumah, sumber makanan, dan kehidupan satwa liar yang ikut berada dalam ancaman.”

shercat – Kebakaran hutan di Kalimantan bukan sekadar masalah asap yang bikin langit kelabu dan aktivitas manusia jadi super uncomfortable. Di balik area yang terbakar, ada kehidupan liar yang harus menghadapi api, asap, kehilangan makanan, hingga rusaknya habitat yang selama ini menjadi tempat mereka bertahan hidup.

Orangutan mungkin menjadi satwa Kalimantan yang paling sering mendapat perhatian ketika kebakaran terjadi, tetapi dampaknya obviously tidak berhenti pada satu spesies. Burung, mamalia, reptil, amfibi, serangga, dan berbagai organisme lain merupakan bagian dari ekosistem hutan yang ikut terdampak ketika api mengubah landscape secara drastis.

Kebakaran Hutan Kalimantan Bukan Cuma Persoalan Pohon

s Suaka Marga Satwa World

Ketika melihat foto hutan setelah kebakaran, perhatian kita mungkin langsung tertuju pada pohon-pohon yang menghitam. Padahal, hutan adalah sebuah ekosistem kompleks yang menyediakan tempat berlindung, mencari makan, berkembang biak, dan berpindah bagi banyak spesies.

Dokumen pengelolaan kawasan dari otoritas konservasi Indonesia mencantumkan kebakaran hutan dan lahan sebagai ancaman yang dapat mengubah vegetasi, memecah kawasan hutan, mengurangi habitat orangutan, serta menyebabkan kematian orangutan dan satwa liar lainnya. Jadi, dampaknya bukan cuma kehilangan vegetasi tetapi juga disruption terhadap kehidupan satwa dalam jangka yang lebih panjang.

Kerusakan tersebut menjadi semakin serious ketika kebakaran terjadi pada habitat spesies yang sudah terancam. Kehilangan sebagian habitat saja dapat menambah tekanan pada populasi yang sebelumnya sudah menghadapi berbagai ancaman lain.

Orangutan Menjadi Salah Satu Satwa yang Terancam

Kalimantan merupakan habitat orangutan Kalimantan atau Pongo pygmaeus. Satwa ini sangat bergantung pada ekosistem hutan untuk memperoleh makanan, membuat sarang, bergerak, dan membesarkan anak.

WWF telah mencatat kebakaran hutan sebagai salah satu ancaman terhadap orangutan Kalimantan bersama kehilangan habitat, illegal logging, perburuan, dan perdagangan satwa. Kebakaran yang berkaitan dengan kondisi kering ekstrem juga telah memberikan tekanan besar terhadap populasi dan habitat orangutan.

Nature pada 2015 juga melaporkan bahwa kebakaran besar di Indonesia mengancam habitat orangutan. Peristiwa kebakaran tersebut terjadi dalam kondisi El Niño dan persoalan pengelolaan lahan yang memperparah situasi kebakaran.

Berapa Banyak Satwa yang Mati karena Kebakaran?

Menentukan jumlah pasti seluruh satwa liar yang mati dalam kebakaran hutan Kalimantan bukan pekerjaan sederhana. Banyak satwa mati jauh di dalam kawasan hutan, bangkainya tidak ditemukan, sementara spesies kecil bahkan lebih sulit didokumentasikan.

Karena itu, angka yang beredar perlu dibaca bersama konteks sumber, lokasi, spesies, dan periode kebakarannya. Tidak tepat menganggap satu estimasi dari suatu kejadian sebagai jumlah pasti semua satwa yang mati akibat seluruh kebakaran di Kalimantan.

Sebagai gambaran historis, laporan WWF mengenai dampak perubahan iklim terhadap orangutan mengutip estimasi bahwa sekitar 1.000 dari populasi sekitar 40.000 orangutan saat itu mati akibat kebakaran besar 1997. Angka tersebut merupakan estimasi historis untuk orangutan dalam episode kebakaran tertentu, bukan sensus kematian seluruh satwa Kalimantan.

Kebakaran 2015 Juga Memberikan Tekanan Berat

Kebakaran 2015 menjadi salah satu episode penting dalam penelitian mengenai dampak api dan asap terhadap orangutan. Sebuah studi di Scientific Reports menyebut kebakaran tahunan di Borneo membakar area hutan yang luas dan mengutip estimasi bahwa ratusan orangutan terbunuh pada 2015.

Tetapi penelitian tersebut juga menunjukkan sesuatu yang sering overlooked: satwa yang tidak langsung mati karena api belum tentu berada dalam kondisi aman. Asap kebakaran sendiri dapat memengaruhi kondisi fisiologis dan perilaku orangutan yang berhasil bertahan.

Artinya, menghitung bangkai setelah kebakaran hanya menunjukkan sebagian dari story. Dampak sebenarnya dapat berlangsung jauh setelah api padam.

Satwa yang Selamat Tetap Menghadapi Asap

Manusia bisa memakai masker, masuk ke ruangan, atau meninggalkan daerah dengan kualitas udara buruk jika memungkinkan. Satwa liar tidak memiliki opsi semudah itu karena hutan tersebut adalah rumah mereka.

Penelitian terhadap orangutan liar di Stasiun Riset Tuanan, Kalimantan Tengah, menemukan perubahan aktivitas dan keseimbangan energi berkaitan dengan periode asap kebakaran 2015. Orangutan yang diamati lebih banyak beristirahat, mengurangi perjalanan, dan menunjukkan tanda perubahan metabolisme setelah periode asap.

Para peneliti menyimpulkan bahwa asap kebakaran memberikan dampak negatif terhadap kondisi orangutan yang diteliti. Mereka juga menekankan perlunya penelitian jangka panjang untuk memahami seberapa besar ancaman tersebut terhadap keberlangsungan populasi.

Habitat yang Terbakar Berarti Makanan Ikut Hilang

Bayangkan rumah terbakar, lalu supermarket, dapur, dan jalan untuk mencari makanan juga ikut hilang dalam waktu bersamaan. Kurang lebih itulah salah satu problem yang dihadapi satwa ketika kawasan hutannya rusak akibat kebakaran.

Pohon yang menghasilkan buah, daun, bunga, kulit, atau bagian lain yang menjadi sumber makanan dapat mati atau mengalami kerusakan. Serangga dan organisme yang menjadi bagian dari rantai makanan juga dapat ikut terdampak sehingga efek kebakaran bergerak melalui berbagai level ekosistem.

Satwa yang berhasil lolos dari api akhirnya harus mencari sumber daya di tempat lain. Kondisi ini bisa meningkatkan kompetisi, mengubah pola pergerakan, atau mendorong satwa mendekati kawasan yang digunakan manusia.

Kebakaran Bisa Memecah Habitat Satwa

Hutan yang sebelumnya tersambung dapat berubah menjadi bagian-bagian habitat yang terpisah setelah mengalami kebakaran dan perubahan penggunaan lahan. Dalam ilmu konservasi, kondisi semacam ini dikenal sebagai fragmentasi habitat.

Dokumen konservasi pemerintah mengenai bentang alam Wehea-Kelay mencantumkan fragmentasi, perubahan vegetasi, serta berkurangnya habitat sebagai beberapa dampak potensial kebakaran hutan dan lahan terhadap orangutan dan satwa liar. Kondisi ini membuat persoalan kebakaran jauh lebih kompleks daripada sekadar menunggu pepohonan tumbuh kembali.

Untuk spesies yang membutuhkan wilayah jelajah luas, konektivitas antarhutan matters a lot. Habitat yang terfragmentasi dapat membuat perjalanan mencari makanan, pasangan, atau wilayah baru menjadi semakin challenging.

Orangutan yang Selamat Bisa Berpindah

Orangutan mempunyai kemampuan untuk bergerak mencari area hutan yang masih menyediakan sumber makanan. Publikasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengenai Taman Nasional Kutai mencatat bahwa setelah kebakaran besar sebelumnya, orangutan dapat bertahan dengan memanfaatkan sumber makanan tertentu dan berpindah mencari hutan yang tidak terbakar.

Tetapi kemampuan berpindah bukan berarti kebakaran menjadi harmless bagi mereka. Ketika hutan yang tersedia semakin sempit atau terfragmentasi, pilihan area aman yang dapat dituju juga menjadi semakin terbatas.

Perjalanan ke area lain bahkan berpotensi membawa satwa mendekati perkebunan, pertanian, atau permukiman. Dari sini, risiko konflik antara manusia dan satwa dapat menjadi persoalan tambahan.

Satwa Kecil Sering Tidak Terlihat

Ketika membicarakan korban kebakaran, kita naturally lebih mudah fokus pada orangutan karena ukuran tubuhnya besar dan status konservasinya mendapatkan banyak perhatian. Namun, hutan Kalimantan juga menjadi rumah bagi countless organisme berukuran kecil yang perannya tidak kalah penting bagi ekosistem.

Serangga membantu berbagai proses ekologis, burung dapat berperan dalam penyebaran biji, sedangkan berbagai hewan lain terlibat dalam rantai makanan. Kehilangan organisme tersebut dapat memengaruhi cara sebuah ekosistem pulih setelah kebakaran.

Inilah alasan angka kematian total satwa sangat sulit diketahui. Tidak realistis mengharapkan tim lapangan menemukan dan menghitung setiap mamalia kecil, reptil, burung, amfibi, atau serangga pada bentang hutan yang luas.

Kebakaran Lahan Gambut Punya Tantangan Tersendiri

Sebagian kawasan Kalimantan memiliki ekosistem gambut yang menyimpan material organik dalam jumlah besar. Ketika gambut mengering dan terbakar, api dapat menjadi sangat challenging karena pembakaran bisa berlangsung pada lapisan organik di bawah permukaan.

Penelitian di Kalimantan Tengah menjelaskan bahwa perubahan ekosistem gambut melalui deforestasi dan drainase berkontribusi terhadap kerentanannya terhadap kebakaran. Kondisi tersebut menjadi particularly concerning karena hutan rawa gambut merupakan habitat penting bagi berbagai satwa, termasuk orangutan.

Kebakaran gambut juga menghasilkan asap pekat yang dapat menyebar jauh dari titik api. Jadi, satwa tidak harus berada tepat di depan kobaran api untuk mengalami konsekuensi dari kebakaran.

Dampak Tidak Berakhir ketika Hujan Turun

Saat hujan akhirnya turun dan hotspot berkurang, publik mungkin merasa crisis is over. Dari perspektif ekosistem, kenyataannya jauh lebih complicated.

Hutan membutuhkan waktu untuk melakukan regenerasi, sementara satwa harus bertahan dengan kondisi habitat yang telah berubah. Sumber makanan, tutupan pohon, lokasi bersarang, dan jalur pergerakan tidak otomatis kembali seperti semula setelah api mati.

Penelitian terhadap orangutan di Kalimantan Tengah bahkan menemukan efek terkait paparan asap yang masih terlihat setelah periode asap berakhir. Hal ini menunjukkan bahwa dampak kebakaran terhadap satwa perlu diperhatikan bukan hanya ketika headline tentang kebakaran sedang ramai.

Regenerasi Hutan Juga Membutuhkan Satwa

Ada hubungan dua arah yang menarik antara hutan dan penghuninya. Satwa membutuhkan hutan untuk bertahan, tetapi hutan juga membutuhkan berbagai satwa untuk membantu proses ekologisnya.

Publikasi KLHK mengenai Taman Nasional Kutai menyoroti peran orangutan dan burung dalam penyebaran biji yang membantu regenerasi setelah kebakaran. Jadi, kehilangan satwa dalam jumlah besar berpotensi mengganggu salah satu mekanisme alami pemulihan hutan.

Ini yang membuat biodiversity begitu penting. Hutan bukan kumpulan pohon yang berdiri sendiri, melainkan network kehidupan yang saling terkoneksi.

Kenapa Kebakaran Hutan Bisa Terjadi?

Kebakaran di Kalimantan dapat dipengaruhi kombinasi kondisi cuaca dan aktivitas manusia. Musim kering dan episode El Niño dapat menciptakan kondisi yang lebih mendukung kebakaran, sementara perubahan penggunaan lahan, deforestasi, dan drainase gambut dapat meningkatkan kerentanan landscape tertentu.

Karena penyebab dan karakter setiap kejadian bisa berbeda, tidak tepat menyederhanakan semua kebakaran sebagai satu jenis peristiwa. Investigasi terhadap penyebab kebakaran tertentu membutuhkan data lapangan, informasi hotspot, kondisi cuaca, penggunaan lahan, serta bukti lainnya.

Hal yang jelas adalah pencegahan menjadi particularly important pada kawasan yang memiliki nilai biodiversitas tinggi. Ketika api sudah masuk ke habitat penting, biaya ekologisnya dapat jauh melampaui area yang terlihat terbakar.

Menyelamatkan Satwa Berarti Menyelamatkan Habitat

Rescue terhadap individu satwa yang terjebak memang penting, especially ketika kondisinya membutuhkan pertolongan segera. Tetapi konservasi tidak bisa berhenti pada proses menyelamatkan satu per satu hewan setelah disaster terjadi.

Satwa membutuhkan habitat yang cukup luas, aman, terkoneksi, dan memiliki sumber makanan untuk mempertahankan populasi dalam jangka panjang. Tanpa habitat, menyelamatkan individu satwa hanya menyelesaikan sebagian kecil dari problem yang jauh lebih besar.

Karena itu, pencegahan kebakaran, perlindungan kawasan hutan, pengelolaan gambut, pemulihan ekosistem, dan pengurangan konflik manusia-satwa menjadi bagian yang saling berkaitan. Conservation is a long game, bukan sekadar emergency response ketika api sudah terlihat.

Kebakaran Hutan Kalimantan Adalah Alarm untuk Biodiversitas

Kematian satwa merupakan salah satu konsekuensi paling heartbreaking dari kebakaran hutan, tetapi dampak ekologisnya bahkan lebih luas. Satwa yang selamat masih dapat menghadapi asap, kehilangan makanan, fragmentasi habitat, perubahan perilaku, dan tekanan untuk berpindah ke kawasan lain.

Bukti dari penelitian orangutan menunjukkan bahwa bahkan individu yang tidak langsung terbakar dapat mengalami dampak akibat asap kebakaran. Sementara itu, dokumen konservasi pemerintah secara eksplisit mengidentifikasi kebakaran sebagai ancaman yang dapat menyebabkan kerusakan habitat hingga kematian orangutan dan satwa liar lainnya.

Pada akhirnya, ketika hutan Kalimantan terbakar, yang dipertaruhkan bukan hanya landscape hijau yang biasa kita lihat dari udara. Yang dipertaruhkan adalah sebuah ecosystem lengkap—dan ribuan bentuk kehidupan yang bergantung padanya.

Referensi

  1. Erb, W. M., Barrow, E. J., Hofner, A. N., Utami-Atmoko, S. S., dan rekan. Wildfire Smoke Impacts Activity and Energetics of Wild Bornean Orangutans. Scientific Reports, 2018.
  2. Drake, N. Indonesia Blazes Threaten Endangered Orangutans. Nature, Vol. 527, 2015.
  3. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial, termasuk pembahasan ancaman terhadap orangutan dan satwa liar di bentang alam Wehea-Kelay.
  4. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Conservation for Better Future, termasuk informasi mengenai orangutan dan pemulihan ekosistem Taman Nasional Kutai setelah kebakaran.
  5. WWF Indonesia. Climate Change Effect on Orangutan. Pembahasan mengenai kebakaran hutan, El Niño, perubahan iklim, dan dampaknya terhadap habitat serta populasi orangutan.
  6. WWF. Bornean Orangutan Factsheet. Informasi mengenai ancaman terhadap orangutan Kalimantan, termasuk kehilangan habitat, kebakaran hutan, perburuan, dan perdagangan satwa.