shercat – Di tengah hamparan gurun Arab yang panas dan kering, ada seekor reptil yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Bentuknya mirip kadal, tubuhnya kekar, ekornya berduri, dan gerakannya cukup gesit ketika merasa terancam. Hewan itu dikenal dengan nama dhab.
Bagi masyarakat Indonesia, nama dhab mungkin masih terdengar asing. Tidak sedikit yang langsung mengira hewan ini sebagai biawak, kadal biasa, atau bahkan iguana. Padahal, dhab memiliki karakteristik tersendiri yang membuatnya berbeda dari reptil-reptil tersebut.
Menariknya, dhab bukan hanya dikenal karena bentuk tubuhnya yang unik. Hewan ini juga memiliki tempat dalam sejarah kuliner masyarakat Arab dan pembahasan hukum makanan dalam Islam. Dalam sejumlah hadis sahih, dhab disebut sebagai hewan yang pernah dihidangkan di hadapan Rasulullah SAW.
Cerita tersebut membuat banyak orang penasaran. Apakah Nabi Muhammad SAW pernah memakan dhab? Mengapa hewan gurun ini dianggap halal oleh sebagian besar ulama? Dan seperti apa sebenarnya kehidupan dhab di habitat aslinya?
Untuk memahami jawabannya, kita perlu mengenal dhab dari dua sisi sekaligus, yaitu sebagai reptil yang mampu bertahan di lingkungan ekstrem dan sebagai hewan yang memiliki sejarah panjang dalam kehidupan masyarakat Arab.
Apa Itu Dhab? Mengenal Reptil Khas Gurun Arab
Dhab adalah sebutan dalam bahasa Arab, ditulis ضب, yang merujuk pada jenis kadal berekor duri. Dalam pembahasan zoologi, nama ini umumnya dikaitkan dengan kadal dari genus Uromastyx, terutama spesies Uromastyx aegyptia yang dikenal sebagai Egyptian spiny-tailed lizard.
Hewan ini termasuk kelompok reptil dalam famili Agamidae. Keluarga tersebut mencakup berbagai jenis kadal yang tersebar di wilayah Afrika, Asia, hingga Australia. Namun, dhab memiliki penampilan yang cukup khas dibandingkan banyak anggota famili lainnya.
Tubuhnya terlihat padat dengan kepala relatif lebar dan kaki yang kuat. Bagian paling mencolok tentu saja ekornya yang tebal serta dipenuhi sisik keras menyerupai duri. Ekor tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan salah satu alat pertahanan ketika hewan ini menghadapi ancaman.
Dhab banyak ditemukan di wilayah kering seperti Semenanjung Arab dan sebagian kawasan Timur Tengah. Kehidupannya sangat bergantung pada kondisi tanah, suhu lingkungan, dan keberadaan tumbuhan yang menjadi sumber makanannya.
Berbeda dari gambaran reptil yang selalu agresif, dhab cenderung menghindari konflik. Ketika merasa terganggu, hewan ini lebih memilih bersembunyi di dalam liang daripada menghadapi ancaman secara langsung.
Ciri-Ciri Fisik Dhab yang Mudah Dikenali
Salah satu alasan dhab menarik perhatian adalah bentuk tubuhnya yang tampak seperti perpaduan antara kadal besar dan reptil purba. Kulitnya dilapisi sisik yang kuat, sedangkan warna tubuhnya umumnya berkisar antara cokelat, abu-abu, dan kekuningan.
Warna tersebut membantu dhab menyatu dengan lingkungan gurun yang didominasi pasir, batu, dan tanah kering. Pada beberapa spesies kadal berekor duri, warna tubuh juga dapat berubah intensitasnya mengikuti kondisi suhu dan aktivitas.
Ukuran dhab bervariasi menurut spesies dan usia. Uromastyx aegyptia termasuk salah satu anggota genus yang berukuran besar, dengan panjang total yang dapat mendekati sekitar 70 sentimeter pada individu tertentu.
Kakinya pendek tetapi kokoh, dilengkapi cakar yang membantu menggali tanah. Sementara itu, ekornya yang berduri dapat digunakan untuk menghalangi pemangsa ketika dhab berlindung di dalam liang.
Meskipun terlihat menyeramkan bagi orang yang belum mengenalnya, penampilan tersebut merupakan hasil adaptasi terhadap lingkungan yang keras, bukan tanda bahwa dhab selalu berbahaya.
Habitat Dhab dan Cara Bertahan Hidup di Gurun
Gurun sering dianggap sebagai tempat yang hampir mustahil dihuni. Suhu siang hari bisa sangat tinggi, persediaan air terbatas, dan tumbuhan tidak selalu tersedia sepanjang tahun. Namun, bagi dhab, kondisi tersebut justru menjadi lingkungan tempat spesiesnya beradaptasi selama waktu yang sangat panjang.
Dhab umumnya menghuni kawasan gurun berbatu, dataran berkerikil, serta tanah kering yang memungkinkan mereka menggali liang. Habitatnya tidak selalu berupa bukit pasir luas seperti yang sering terlihat dalam film.
Keberadaan liang menjadi bagian penting dari kehidupan hewan ini. Di dalam tanah, suhu cenderung lebih stabil dibandingkan permukaan yang langsung terkena sinar matahari. Liang juga memberikan perlindungan dari predator dan kondisi cuaca ekstrem.
Sebagai hewan berdarah dingin atau ektoterm, dhab mengandalkan panas lingkungan untuk membantu mengatur suhu tubuh. Karena itu, aktivitasnya sangat dipengaruhi perubahan suhu sepanjang hari.
Mengapa Dhab Suka Berjemur di Bawah Matahari?
Pada pagi hari, dhab dapat keluar dari liangnya untuk berjemur. Aktivitas ini membantu meningkatkan suhu tubuh sehingga otot, pencernaan, dan berbagai proses metabolisme dapat bekerja secara optimal.
Setelah tubuhnya cukup hangat, dhab mulai bergerak mencari makanan. Namun, ketika suhu permukaan terlalu panas, hewan ini dapat kembali berlindung atau mengurangi aktivitasnya.
Pola tersebut menunjukkan bahwa kehidupan dhab tidak sekadar soal bertahan menghadapi panas. Hewan ini harus mampu memanfaatkan panas matahari sekaligus menghindari paparan yang berlebihan.
Kemampuan memilih waktu beraktivitas menjadi salah satu alasan kadal berekor duri dapat hidup di kawasan yang relatif sulit dihuni oleh banyak jenis hewan lain.
Liang Tanah yang Menjadi Rumah Sekaligus Benteng
Bagi dhab, liang bukan hanya tempat tidur. Struktur bawah tanah tersebut berfungsi sebagai tempat berlindung, menjaga suhu tubuh, dan mengurangi risiko serangan pemangsa.
Ketika terancam, dhab dapat bergegas masuk ke liang dengan posisi kepala lebih dahulu. Ekor berdurinya kemudian menjadi penghalang yang menyulitkan predator untuk menarik tubuhnya keluar.
Perilaku ini sangat menarik karena menunjukkan hubungan erat antara bentuk tubuh dan cara hidupnya. Ekor yang tampak berat justru memiliki manfaat penting dalam sistem pertahanan alami.
Keberadaan tanah yang cocok untuk menggali juga menjelaskan mengapa dhab tidak dapat hidup dengan baik di sembarang lingkungan, meskipun sama-sama beriklim panas.
Apa Makanan Dhab di Alam Liar?
Ada anggapan bahwa reptil berukuran besar pasti gemar memangsa hewan lain. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya berlaku untuk dhab.
Kadal dari genus Uromastyx dikenal sebagai reptil yang sebagian besar makanannya berasal dari tumbuhan. Daun, bunga, biji, dan bagian tanaman gurun menjadi sumber nutrisi penting dalam kehidupan sehari-hari.
Jenis makanan yang tersedia dapat berubah mengikuti musim, kondisi habitat, dan spesiesnya. Pada beberapa keadaan, kadal berekor duri juga dapat mengonsumsi serangga atau materi hewani dalam jumlah terbatas, tetapi tumbuhan tetap mendominasi pola makannya.
Hal ini membuat dhab berbeda dari biawak yang umumnya memiliki pola makan lebih karnivor atau oportunistis.
Bagaimana Dhab Mendapatkan Air di Gurun?
Salah satu pertanyaan menarik mengenai dhab adalah bagaimana hewan ini memperoleh cukup air di lingkungan yang sangat kering.
Sebagian kebutuhan cairannya dapat diperoleh dari makanan nabati yang dikonsumsi. Tumbuhan mengandung air, meskipun jumlahnya bervariasi menurut jenis dan kondisi lingkungan.
Selain itu, seperti banyak reptil gurun lainnya, dhab memiliki adaptasi fisiologis yang membantu menghemat air. Pengeluaran limbah nitrogen dalam bentuk asam urat, misalnya, memungkinkan reptil mengurangi kehilangan cairan dibandingkan hewan yang mengeluarkan limbah nitrogen terutama sebagai urea dalam urine encer.
Namun, kemampuan tersebut bukan berarti dhab sama sekali tidak membutuhkan air. Hewan ini tetap bergantung pada keseimbangan cairan dan kondisi habitat yang mendukung kehidupannya.
Perbedaan Dhab dan Biawak yang Sering Disalahpahami
Dhab (Uromastyx)
Biawak air (Varanus salvator)
Di Indonesia, dhab kadang diterjemahkan sebagai biawak gurun. Istilah tersebut memang membantu memberikan gambaran bahwa dhab merupakan reptil berukuran cukup besar. Namun, secara zoologi, dhab dan biawak merupakan kelompok hewan yang berbeda.
Dhab termasuk famili Agamidae, sedangkan biawak termasuk famili Varanidae. Perbedaan ini bukan sekadar persoalan nama, melainkan berkaitan dengan struktur tubuh, kebiasaan makan, dan sejarah evolusinya.
Biawak biasanya memiliki tubuh memanjang, leher yang relatif panjang, serta ekor yang dapat digunakan untuk berbagai fungsi, termasuk berenang pada spesies tertentu. Sebaliknya, dhab cenderung bertubuh lebih padat dengan ekor pendek, tebal, dan berduri.
| Aspek | Dhab | Biawak |
|---|---|---|
| Famili | Agamidae | Varanidae |
| Contoh genus | Uromastyx | Varanus |
| Bentuk ekor | Tebal dan berduri | Umumnya panjang |
| Makanan | Dominan tumbuhan | Dominan hewani atau oportunistis |
| Habitat | Banyak di kawasan kering | Beragam, termasuk hutan dan perairan |
Perbedaan tersebut juga penting ketika membahas hukum makanan dalam Islam. Hadis yang menyebut dhab tidak otomatis dapat digunakan untuk menetapkan hukum seluruh jenis biawak, karena keduanya bukan hewan yang sama.
Oleh sebab itu, memahami identitas hewan menjadi langkah awal yang penting sebelum menghubungkannya dengan pembahasan agama.
Kisah Dhab dalam Hadis Nabi Muhammad SAW
Pembahasan tentang dhab menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan sebuah peristiwa pada masa Rasulullah SAW. Kisah tersebut diriwayatkan dalam hadis sahih dan melibatkan salah satu sahabat terkenal, Khalid bin Walid.
Dalam riwayat Sahih Bukhari nomor 5400, diceritakan bahwa seekor dhab yang telah dipanggang disajikan kepada Rasulullah SAW. Awalnya, beliau mengulurkan tangan ke arah makanan tersebut. Namun, setelah mengetahui bahwa hidangan itu adalah dhab, beliau menarik kembali tangannya.
Khalid bin Walid kemudian bertanya apakah hewan tersebut haram dimakan. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa dhab tidak haram, tetapi beliau tidak terbiasa dengan makanan tersebut karena tidak umum ditemukan di daerah asal kaumnya.
Setelah mendengar jawaban itu, Khalid bin Walid memakan dhab di hadapan Rasulullah SAW, dan beliau tidak melarangnya.
Peristiwa sederhana ini menjadi salah satu landasan penting dalam pembahasan hukum mengonsumsi dhab. Kisah tersebut juga memperlihatkan bahwa kebiasaan makan masyarakat dapat berbeda tanpa harus selalu dikaitkan dengan larangan agama.
Mengapa Rasulullah SAW Tidak Memakan Dhab?
Keputusan Rasulullah SAW untuk tidak memakan dhab terkadang menimbulkan kesalahpahaman. Ada yang menganggap penolakan tersebut sebagai bukti bahwa dhab merupakan makanan terlarang.
Padahal, penjelasan dalam hadis menunjukkan alasan yang berbeda. Rasulullah SAW tidak terbiasa mengonsumsi dhab dan secara pribadi tidak menyukai makanan tersebut.
Hal ini menggambarkan perbedaan antara selera pribadi dan ketentuan hukum agama. Seseorang boleh saja tidak menyukai makanan tertentu, meskipun makanan itu pada dasarnya diperbolehkan.
Dalam riwayat Sahih Muslim nomor 1943b, Rasulullah SAW juga menyampaikan bahwa beliau tidak memakan dhab dan tidak mengharamkannya.
Dari sini terlihat bahwa tidak semua makanan yang ditinggalkan Rasulullah SAW otomatis menjadi haram. Alasan beliau meninggalkan sesuatu perlu dipahami berdasarkan konteks dan keterangan hadis yang menyertainya.
Hukum Makan Dhab dalam Islam, Halal atau Haram?
Pertanyaan mengenai hukum makan dhab sering muncul, terutama di kalangan masyarakat Indonesia yang tidak terbiasa melihat reptil sebagai makanan.
Berdasarkan hadis sahih tentang Khalid bin Walid, mayoritas ulama memandang bahwa dhab boleh dikonsumsi. Pendapat ini dikenal dalam pembahasan fikih, termasuk di kalangan ulama mazhab Syafi’i.
Salah satu dasar hukumnya adalah persetujuan Rasulullah SAW ketika Khalid bin Walid memakan dhab di hadapan beliau. Dalam kajian hadis, persetujuan semacam ini berkaitan dengan konsep taqrir, yaitu pengakuan atau persetujuan Nabi terhadap suatu perbuatan.
Namun, terdapat perbedaan pendapat dalam khazanah fikih. Mazhab Hanafi memiliki pandangan yang lebih ketat mengenai konsumsi dhab, sehingga tidak tepat menyatakan bahwa seluruh ulama sepakat tanpa pengecualian.
Perlu dipahami pula bahwa kebolehan mengonsumsi dhab tidak berarti semua reptil otomatis halal. Identitas hewan, ketentuan penyembelihan, dan pandangan fikih yang digunakan tetap perlu diperhatikan.
Apakah Makan Dhab Termasuk Sunnah?
Pertanyaan ini juga cukup sering muncul karena dhab disebut secara langsung dalam hadis Rasulullah SAW.
Jika yang dimaksud adalah sunnah dalam arti makanan yang secara khusus dicontohkan atau dianjurkan untuk dikonsumsi oleh Nabi, maka dhab tidak tepat dimasukkan dalam kategori tersebut hanya berdasarkan hadis yang telah disebutkan.
Riwayat yang sahih justru menjelaskan bahwa Rasulullah SAW tidak memakannya, meskipun beliau membolehkan sahabat mengonsumsinya.
Karena itu, lebih tepat mengatakan bahwa makan dhab merupakan perbuatan yang diperbolehkan menurut pendapat mayoritas ulama, bukan ibadah khusus yang harus dilakukan untuk meneladani kebiasaan makan Rasulullah SAW.
Pemahaman ini penting agar pembahasan makanan dalam Islam tidak berhenti pada anggapan bahwa segala sesuatu yang muncul dalam hadis pasti menjadi anjuran untuk dilakukan.
Dhab dalam Tradisi Kuliner Masyarakat Arab
Jauh sebelum pembahasan tentang dhab ramai di internet, hewan ini telah dikenal oleh sebagian masyarakat yang tinggal di kawasan gurun Arab.
Dalam lingkungan yang memiliki sumber pangan terbatas, masyarakat setempat memanfaatkan berbagai bahan makanan yang tersedia. Dhab menjadi salah satu hewan yang secara historis dikonsumsi oleh kelompok masyarakat tertentu.
Riwayat mengenai dhab panggang yang dihidangkan pada masa Rasulullah SAW menunjukkan bahwa hewan ini memang dikenal sebagai bahan makanan pada masa tersebut.
Cara memasaknya yang disebut dalam hadis juga memperlihatkan bahwa dhab bukan sekadar hewan liar yang kebetulan ditemukan, melainkan sudah menjadi bagian dari kebiasaan makan sebagian penduduk wilayah Arab.
Meski demikian, tidak berarti seluruh masyarakat Arab mengonsumsi dhab atau menjadikannya makanan sehari-hari. Kebiasaan kuliner dapat berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya.
Apakah Dhab Masih Dikonsumsi Sekarang?
Dhab masih dikenal sebagai makanan tradisional di sebagian kawasan Semenanjung Arab. Namun, keberadaannya sebagai bahan pangan perlu dilihat bersama perkembangan aturan perlindungan satwa dan kondisi populasinya.
Penangkapan reptil liar secara berlebihan dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem, terutama pada spesies yang pertumbuhan dan reproduksinya relatif lambat.
Karena itu, ketertarikan terhadap kuliner tradisional tidak seharusnya mengabaikan kelestarian satwa. Status perlindungan, izin perburuan, dan aturan perdagangan dapat berbeda menurut negara serta spesies yang bersangkutan.
Memahami tradisi kuliner masa lalu tetap bisa dilakukan tanpa harus menangkap atau mengonsumsi hewan liar pada masa sekarang.
Ancaman terhadap Populasi Dhab di Alam Liar
Di balik keunikannya, kehidupan dhab ternyata menghadapi tantangan yang cukup serius. Salah satu ancaman terbesarnya berasal dari perubahan habitat akibat aktivitas manusia.
Pembangunan jalan, perluasan kawasan permukiman, aktivitas kendaraan di luar jalur, serta perubahan penggunaan lahan dapat merusak wilayah tempat dhab mencari makan dan menggali liang.
Menurut Environment Agency – Abu Dhabi, kadal berekor duri Mesir termasuk satwa dengan status konservasi Vulnerable atau rentan berdasarkan penilaian IUCN yang dirujuk lembaga tersebut. Ancaman yang dihadapinya mencakup pembangunan dan persaingan mendapatkan vegetasi akibat penggembalaan.
Penelitian tentang habitat Uromastyx aegyptia di Arab Saudi juga menunjukkan hubungan antara karakteristik tanah, tutupan vegetasi, dan lokasi liang yang digunakan dhab. Artinya, perubahan kecil pada lingkungan dapat memengaruhi tempat tinggal reptil ini.
Mengapa Pelestarian Dhab Penting?
Dhab merupakan bagian dari ekosistem gurun yang memiliki hubungan dengan tumbuhan, predator, dan kondisi tanah di sekitarnya.
Sebagai pemakan tumbuhan, dhab ikut terlibat dalam interaksi ekologis antara vegetasi dan hewan gurun. Pada saat yang sama, dhab juga menjadi mangsa bagi sejumlah predator.
Melindungi dhab berarti turut menjaga hubungan alami tersebut agar tidak terganggu oleh penangkapan berlebihan maupun kerusakan habitat.
Upaya konservasi bahkan telah dilakukan di Uni Emirat Arab, termasuk penelitian pemindahan dhab dari kawasan yang terdampak pembangunan. Hasilnya menunjukkan bahwa pemindahan satwa liar tidak selalu mudah karena dhab memiliki keterikatan kuat dengan liangnya.
Dhab, Reptil Gurun yang Menyimpan Cerita tentang Alam dan Sejarah Islam
Dhab mungkin tidak sepopuler unta ketika orang membicarakan kehidupan di Jazirah Arab. Namun, reptil berekor duri ini memiliki kisah yang tidak kalah menarik.
Dari sisi alam, dhab memperlihatkan bagaimana hewan mampu beradaptasi dengan panas ekstrem, keterbatasan air, dan kondisi lingkungan yang menantang. Dari sisi sejarah, keberadaannya dalam hadis memberikan gambaran mengenai keragaman makanan dan kebiasaan masyarakat pada masa Rasulullah SAW.
Kisah Khalid bin Walid yang memakan dhab di hadapan Nabi juga menyimpan pelajaran mengenai perbedaan selera dan hukum makanan. Sesuatu yang tidak disukai secara pribadi belum tentu dilarang secara agama.
Kini, ketika sebagian habitat dhab menghadapi tekanan pembangunan dan aktivitas manusia, perhatian terhadap hewan ini tidak lagi sebatas persoalan boleh atau tidaknya dimakan.
Mengenal dhab juga berarti memahami bahwa satwa yang hidup jauh dari lingkungan kita tetap memiliki peran penting dalam alam. Hewan yang dahulu dikenal melalui cerita dan tradisi masyarakat Arab ini ternyata menyimpan banyak hal untuk dipelajari, mulai dari biologi, sejarah, fikih, hingga pelestarian lingkungan.
Referensi
Sumber hadis, lembaga konservasi, dan penelitian ilmiah yang digunakan dalam penyusunan artikel.
Sahih al-Bukhari, Hadis Nomor 5400. The Book of Food, Meals. Riwayat Khalid bin Walid tentang dhab panggang yang dihidangkan kepada Rasulullah SAW. Baca hadis di Sunnah.com.
Sahih Muslim, Hadis Nomor 1943b dan 1944a. The Book of Hunting, Slaughter, and What May Be Eaten. Riwayat mengenai hukum mengonsumsi dhab. Hadis Muslim 1943b dan Hadis Muslim 1944a.
Environment Agency – Abu Dhabi. Egyptian Spiny-tailed Lizard. Informasi mengenai identitas, habitat, makanan, dan status konservasi dhab. Situs resmi Environment Agency – Abu Dhabi.
Animal Diversity Web, University of Michigan. Uromastyx acanthinura. Referensi mengenai pola makan, adaptasi, dan perilaku kadal berekor duri. Animal Diversity Web.
Habitat Selection by the Spiny-tailed Lizard (Uromastyx aegyptia): A View from Spatial Analysis. Penelitian mengenai pemilihan habitat dan karakteristik liang dhab di Arab Saudi. Baca penelitian ilmiah.
IUCN SSC Conservation Translocation Specialist Group. Translocation Trial of Spiny-tailed Lizard or Dhub in Dubai, United Arab Emirates. Studi konservasi dan pemindahan dhab. Baca studi IUCN.
Nature Conservation Egypt. Egyptian Spiny-tailed Lizard Translocation. Informasi mengenai program perlindungan dhab dan ancaman terhadap habitatnya. Nature Conservation Egypt
