Ringkasan: Konsep fenceless jadi tren baru suaka margasatwa modern, tetapi bukan berarti semua pagar dibongkar. Studi terhadap 60 taman nasional di 17 negara menunjukkan taman tanpa pagar menyatu lebih landai dengan lanskap sekitarnya, sedangkan pagar penuh menjaga inti kawasan tetap utuh. Dari 96 suaka margasatwa yang tercatat Ditjen KSDAE, redaksi shercat.com baru memiliki profil untuk 21 kawasan.
Apa Itu Konsep Fenceless Jadi Tren Baru Suaka Margasatwa Modern?

Konsep fenceless adalah pendekatan pengelolaan kawasan satwa liar yang mengurangi pagar fisik permanen di batas kawasan. Fungsi pagar digantikan koridor satwa, kesepakatan lahan dengan masyarakat, patroli, dan teknologi pemantauan. Istilah ini deskriptif, bukan kategori hukum, dan hasilnya bergantung pada tekanan di lapangan.
Sejak awal perlu ditegaskan: “tren” di sini tidak berarti pagar sudah ditinggalkan. Riset justru menunjukkan tiga pola yang hidup berdampingan, yaitu kawasan berpagar penuh, berpagar sebagian, dan tanpa pagar.
Bagi pembaca Indonesia, konteksnya berbeda dari savana Afrika. Menurut Ditjen KSDAE Kementerian Kehutanan, suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam dengan keanekaragaman atau keunikan jenis satwa yang kelangsungan hidupnya menuntut pelestarian habitat dan populasi. Kegiatan yang boleh dilakukan terbatas pada penelitian, pendidikan, dan kegiatan nonkomersial lain yang tidak mengganggu satwa.
Dalam penelusuran redaksi per 21 September 2026, kami tidak menemukan dokumen resmi KSDAE yang memakai istilah “fenceless”. Artikel ini memakainya sebagai payung untuk praktik pengelolaan batas berbasis koridor, kesepakatan lahan, dan peringatan dini. Klaim tentang praktik di luar negeri kami rujuk langsung ke sumber aslinya.
Mengapa Konsep Fenceless Jadi Tren Baru Suaka Margasatwa Modern Penting di 2026?

Jawaban singkatnya: pagar menyelesaikan satu masalah, tetapi bisa menciptakan masalah lain. Pagar menahan perambah dan ternak di luar. Pagar juga memotong jalur jelajah, mengisolasi populasi, dan memindahkan tekanan ke garis batas.
Sebuah tinjauan sistematis di jurnal BioScience memeriksa 446 studi yang terbit antara 1948 dan 2018. Penulisnya, McInturff dan kolega, menyimpulkan bahwa pagar tidak selalu melindungi dan tidak selalu merusak. Dampaknya berbeda menurut jenis satwa, skala, dan jenis efek yang diukur. Pagar yang sama bisa menguntungkan satu spesies dan merugikan spesies lain.
Konteks Indonesia menambah urgensi. Habitat gajah dan harimau di Sumatera terpecah oleh perkebunan, hutan tanaman industri, dan permukiman. Saat mengunjungi Pusat Latihan Gajah TWA Seblat pada 11 Desember 2025, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan kantong-kantong gajah sudah terfragmentasi dan akan disambungkan lewat koridor, sebagaimana dilaporkan ANTARA.
Cara berpikirnya bergeser. Yang dijaga bukan hanya petak yang dipagari, tetapi juga jalur yang menyambungkan petak-petak terpisah. Itulah daya tarik utama konsep ini: konektivitas lanskap, bukan sekadar membuka gerbang.
Apa Kata Riset Terbaru tentang Taman Berpagar dan Tanpa Pagar?

Studi paling relevan terbit pada April 2026. Sekelompok peneliti tata kelola kawasan lindung menganalisis 60 taman nasional di 17 negara di selatan garis khatulistiwa. Mereka membandingkan citra satelit taman berpagar penuh, berpagar sebagian, dan tanpa pagar pada periode 2020–2024. Ringkasannya dimuat The Conversation dan diterbitkan ulang IOL pada 8 April 2026.
Temuan utamanya:
- Pagar penuh: taman paling berbeda dari lingkungan luarnya. Tutupan alami lebih tinggi di dalam, seperti di Addo Elephant National Park, Afrika Selatan.
- Tanpa pagar: batasnya lebih mirip peralihan bertahap daripada garis tegas, seperti di Chobe (Botswana) serta Kafue dan South Luangwa (Zambia).
- Pagar sebagian: posisinya di tengah, seperti di Kasungu (Malawi).
Ada satu temuan yang sering terlewat. Menurut para peneliti, pagar dapat memusatkan aktivitas manusia, ternak, dan tekanan satwa di satu garis sempit. Di Kruger, pagar tidak menghapus konflik di perbatasan. Satwa yang menembus pagar merusak tanaman dan membunuh ternak warga.
Mereka juga mencatat sisi sebaliknya. Satwa besar dan berbahaya, seperti gajah, kerbau, dan singa, memerlukan pagar demi keselamatan manusia dan satwa. Membangun serta merawat pagar di area luas juga mahal. Taman tanpa pagar lebih sulit mencegah perambahan yang datang pelan-pelan.
Kesimpulan studi itu sejalan dengan tinjauan BioScience: keputusan memagari harus mengikuti tujuan. Jika prioritasnya mencegah alih fungsi lahan, pagar penuh masuk akal. Jika prioritasnya konektivitas di lanskap campuran, pagar sebagian atau tanpa pagar lebih cocok.
Data Internal: Temuan Redaksi tentang Cakupan Suaka Margasatwa

| Metrik | Nilai | Sumber | Periode | Metode |
|---|---|---|---|---|
| Suaka margasatwa terdaftar | 96 kawasan | Ditjen KSDAE, Kemenhut | 21 Apr 2026 | Daftar kawasan konservasi berfungsi SM |
| Artikel di sitemap shercat.com | 90 artikel | Internal | 21 Sep 2026 | Hitung URL post-sitemap, tanpa beranda |
| Profil kawasan suaka margasatwa | 21 profil | Internal | 21 Sep 2026 | Klasifikasi manual dari judul dan slug |
| Perkiraan cakupan | sekitar 22% (21 dari 96) | Internal dan KSDAE | 21 Sep 2026 | Pembagian sederhana |
Artinya, redaksi baru membahas sekitar seperlima suaka margasatwa Indonesia. Perbandingan ini kasar, karena 21 profil itu belum kami cocokkan satu per satu dengan daftar resmi. Dari judul-judul di sitemap, belum ada artikel yang khusus membahas cara batas kawasan dikelola. Panduan ini mengisi celah tersebut.
Contoh Tanpa Pagar: Konservansi Komunitas di Maasai Mara, Kenya

The Maa Trust mencatat 15 konservansi tanpa pagar di ekosistem Mara dengan luas 347.011 acre, sekitar 140 ribu hektare. Lembaga itu menyebut luas tersebut menggandakan habitat satwa di ekosistem Mara. Angka luas berbeda antarsumber karena definisi dan tahun pencatatan tidak sama. Kami memakai angka Maa Trust.
Modelnya sederhana. Keluarga Maasai menyewakan tanah ke operator wisata, dan sewa itu menjadi pendapatan rutin. Tanah tetap milik warga, satwa tetap bebas melintas.
Nashulai Maasai Conservancy, berdiri 2016, memberi contoh yang lebih tegas. Menurut laporan Mongabay (Desember 2025), lebih dari 2.400 hektare lahan pribadi warga Maasai disatukan. Anggota tidak boleh memasang pagar. Mereka juga tidak boleh menjual tanah kecuali kepada sesama anggota untuk tujuan konservasi. Aturan ini lahir setelah pihak luar membeli tanah dan memagarinya, sehingga jalur satwa dan ternak tertutup.
Ada indikasi dampak pada satwa, tetapi asalnya perlu dicatat. Sebuah komentar di Mongabay (2018) merujuk riset di jurnal Conservation Biology bahwa kepadatan singa di konservansi sekitar Naboisho lebih tinggi daripada di cagar Maasai Mara sendiri.
Model ini tidak otomatis bisa disalin. Mongabay mencatat bahwa di beberapa tempat privatisasi tanah Maasai justru memecah lahan penggembalaan. Konservansi berjalan karena ada perjanjian sewa, pembagian pendapatan, dan aturan bersama, bukan sekadar ketiadaan pagar.
Contoh Pagar yang Dibongkar Sebagian: Kruger dan Great Limpopo

Great Limpopo Transfrontier Park adalah contoh pembukaan batas di skala besar. Menurut Peace Parks Foundation, presiden Afrika Selatan, Mozambik, dan Zimbabwe menandatangani perjanjiannya pada 9 Desember 2002 di Xai-Xai. Luas taman lintas negara ini sekitar 35.000 kilometer persegi.
Peace Parks Foundation juga mengutip pejabat Kruger yang menyebut pagar perbatasan dengan Mozambik baru ada sejak 1976, saat perang pecah di Mozambik. Sebelum itu, katanya, satwa bergerak bebas di jalur migrasi lamanya. Untuk mengisi kembali taman di Mozambik yang satwanya menipis, African Wildlife Foundation mencatat rencana memindahkan 1.000 gajah Kruger dengan biaya sekitar US$20 juta selama tiga tahun.
Pagar tidak dibongkar sekaligus. Menurut Kruger Park Times, sekitar 57 kilometer pagar diturunkan, hanya sedikit di atas sepertiga batas lama. Pejabat SANParks menyebut alasan keamanan sebagai penyebab utama tidak lebih banyak pagar dijatuhkan. Bagian yang dibuka dipantau untuk mengawasi kejahatan lintas batas.
Pelajarannya jelas. Membuka batas berarti mengurus keamanan, kerja sama antarnegara, dan pemindahan satwa, bukan hanya menggunting kawat. Untuk profil kawasan dan satwanya, baca ulasan kami tentang Kruger dan Big 5 safari Afrika.
Teknologi Pengganti Pagar: GPS Collar, Pagar Lebah, dan Peringatan Dini

Saat pagar dikurangi, informasi menjadi pengganti. Tujuannya memberi warga waktu bersiap sebelum satwa tiba.
Di Riau, laporan Rest of World mencatat kawanan sekitar 30 gajah yang bertahan dua bulan di Desa Muara Bungkal pada 2016. Mereka menghabiskan sekitar 50 hektare lahan dan menyebabkan kerugian panen lebih dari US$65.000. Setelah pelacakan dengan GPS collar berjalan, kepala desa dan anggota RSF mengatakan tidak ada bentrokan keras dalam setahun terakhir. Seorang kepala desa berkata warga kini bisa bersiap karena posisi kawanan diketahui.
Pola serupa dipakai di Bukit Barisan Selatan. Menurut liputan kami tentang krisis konflik satwa liar di TNBBS, tim gabungan menggiring 18 gajah kembali ke taman nasional pada awal Januari 2025 dan memantaunya lewat GPS collar, mengacu pada laporan Prioritas TV. Teknologinya juga punya kelemahan. Dua collar sempat mati akibat gangguan jaringan satelit sejak April 2023 dan baru diganti pada Desember 2023, menurut catatan BBTNBBS.
Cara lain berbiaya rendah adalah pagar lebah. Menurut Esri, Save the Elephants memasang pagar lebah di sekeliling lahan petani di sekitar Tsavo, Kenya, lalu memantau efektivitasnya bersama warga. Tsavo menampung lebih dari 12.000 gajah.
Pagar konvensional pun tidak kebal. Penelitian di Lewa Wildlife Conservancy (2010–2013) mencatat gajah mematahkan pagar listrik hingga empat kali per gajah per 100 hari. Peneliti mengidentifikasi 67 gajah pemecah pagar. Pagar hanya menunda satwa, bukan menjamin ia tidak lewat.
Bagaimana Praktiknya di Indonesia: Koridor dan Lanskap Mosaik

Indonesia sudah mempraktikkan sebagian logika ini tanpa memakai istilah fenceless. Contoh paling jelas adalah koridor. Menurut Kemenhut yang dikutip ANTARA, Koridor Seblat–Air Teramang–Air Rami seluas 2.217 hektare dengan panjang sekitar 53 kilometer diharapkan menghubungkan sedikitnya 12 kantong gajah. Rinciannya kami bahas dalam laporan koridor gajah Seblat seluas 2.217 hektare.
Contoh kedua menunjukkan mengapa pagar di sekeliling suaka saja tidak cukup. Dr. Dolly Priatna dari Belantara Foundation, dalam Kongres IUCN di Abu Dhabi pada Oktober 2025, menjelaskan bahwa Lanskap Sugihan–Simpang Heran di Sumatera Selatan seluas 600.000–700.000 hektare adalah “kawasan mosaik”. Hanya sekitar 75.000 hektare atau 10–12 persen yang berstatus Suaka Margasatwa Padang Sugihan. Sisanya hutan tanaman industri, kebun sawit, sawah, ladang, dan permukiman.
Lanskap itu dihuni sekitar 100–120 gajah liar, menurut Tempo. Polisi hutan BKSDA Sumsel, Ruswanto, mengatakan kawanan di sana berada dekat suaka tetapi tidak berani menyeberang karena sudah ada kelompok gajah lain, seperti dilaporkan Kompas.id pada Januari 2025. Artinya, sebagian besar wilayah jelajah gajah ada di luar batas suaka. Untuk latar kawasannya, lihat profil Suaka Margasatwa Padang Sugihan.
Dalam lanskap seperti ini, pilihan pengelolaan bergeser dari “memagari suaka” ke “mengelola mosaik”: koridor, kesepakatan dengan pemegang konsesi, menara pantau, dan penghalauan terkoordinasi.
Apa Dasar Hukum Konsep Fenceless di Indonesia?

Tidak ada kategori kawasan bernama fenceless dalam hukum Indonesia. Kategori yang berlaku, sebagaimana diatur UU Nomor 5 Tahun 1990 dan diubah UU Nomor 32 Tahun 2024, meliputi kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, kawasan konservasi perairan, pesisir, dan pulau kecil, serta areal preservasi.
Berdasarkan siaran pers KLHK, DPR menyetujui perubahan itu pada 9 Juli 2024, dan Presiden Joko Widodo mengesahkannya pada 7 Agustus 2024. Ada dua perubahan yang relevan untuk pembahasan ini.
- Tanggung jawab bertambah: konservasi kini menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat, bukan hanya pusat dan masyarakat.
- Areal preservasi: kegiatan konservasi tidak lagi terbatas di dalam kawasan. Menurut ringkasan di JDIH, pemegang hak atas tanah di areal preservasi harus menjaga fungsi perlindungan wilayah, dan pemegang izin usaha wajib menyesuaikan pengelolaannya.
Logika areal preservasi sejalan dengan pengelolaan lanskap di luar batas kawasan. Namun teks yang kami rujuk tidak menyebut fenceless, dan kami tidak menemukan aturan yang melarang atau mewajibkan pagar di suaka margasatwa. Untuk kepastian hukum, rujuk teks resmi UU 32/2024 di BPK.
Satu catatan agar tidak tertukar. RUU Perlindungan dan Kesejahteraan Hewan masuk Prolegnas Prioritas 2026 dengan nomor urut 41, tetapi fokusnya hewan peliharaan dan ternak, bukan satwa liar. Menurut laporan kami, per September 2026 RUU Perlindungan Hewan baru sampai tahap naskah akademik dari koalisi masyarakat sipil.
8 Pendekatan Pengelolaan Batas Tanpa Pagar Penuh

Tabel berikut merangkum pendekatan yang muncul dalam sumber-sumber di atas. Kolom bukti hanya memuat apa yang dilaporkan sumbernya.
| # | Pendekatan | Contoh | Catatan bukti | Sumber |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Koridor satwa | Seblat, Bengkulu | 2.217 ha, sekitar 53 km, menargetkan 12 kantong gajah | Kemenhut via ANTARA |
| 2 | Konservansi komunitas berbasis sewa | Ekosistem Mara, Kenya | 15 konservansi tanpa pagar, 347.011 acre | The Maa Trust |
| 3 | Klausul larangan pagar dalam kontrak | Nashulai, Kenya | Lebih dari 2.400 ha, anggota tidak boleh memagari | Mongabay, 2025 |
| 4 | Taman lintas negara | Great Limpopo | Sekitar 35.000 km²; sekitar 57 km pagar diturunkan | Peace Parks; Kruger Park Times |
| 5 | Pagar sebagian (hibrida) | Batas barat Singita Grumeti, Tanzania | Pagar parsial untuk konflik manusia–satwa | The Conversation/IOL, 2026 |
| 6 | GPS collar dan peringatan dini | Riau; TNBBS | Tidak ada bentrokan keras setahun terakhir (Riau) | Rest of World; BBTNBBS |
| 7 | Pagar lebah | Tsavo, Kenya | Dipasang di lahan petani, dipantau bersama warga | Esri, 2024 |
| 8 | Tim respons dan penghalauan terpadu | TNBBS | ERU dan penggiringan 18 gajah, Januari 2025 | Prioritas TV via shercat.com |
Kapan Fenceless Cocok, dan Kapan Tidak?

Tabel ini adalah rangkuman redaksi dari studi 60 taman nasional dan kasus di atas. Ini bukan standar resmi.
| Kondisi di batas kawasan | Pilihan yang lebih masuk akal | Alasan menurut sumber |
|---|---|---|
| Tekanan tinggi: pertanian, permukiman, perburuan, perambahan berulang | Pagar penuh atau batas keras | Batas keras bisa menjadi alat vital menahan alih fungsi lahan |
| Tujuan utama konektivitas di lanskap campuran | Pagar sebagian atau tanpa pagar | Taman menyatu lebih landai dengan lanskap sekitar |
| Gajah, kerbau, atau singa dekat permukiman dan wisatawan | Pagar di titik rawan | Satwa besar berbahaya memerlukan pagar demi keselamatan |
| Batas sangat panjang, anggaran terbatas | Hibrida: pagar parsial, patroli, peringatan dini | Pagar mahal dibangun dan dirawat di area luas |
| Lahan dimiliki banyak pihak | Perjanjian sewa dengan klausul larangan pagar | Model Nashulai dan konservansi Mara |
Perhatikan pola di tabel ini. Tidak ada satu pilihan yang selalu unggul. Kondisi batas kawasan menentukan pilihan, dan kondisi itu bisa berubah dari satu ruas ke ruas lain di kawasan yang sama.
Cara Implementasi Konsep Fenceless Jadi Tren Baru Suaka Margasatwa Modern — Step by Step

Langkah berikut adalah rangkuman redaksi dari studi dan kasus di atas. Ini bukan prosedur resmi KSDAE.
- Tetapkan tujuan batas: tentukan apakah kawasan perlu inti yang tertutup rapat atau jalur konektivitas ke lanskap sekitarnya.
- Ukur tekanan di batas: petakan perambahan, konflik, dan perburuan per ruas batas, misalnya lewat citra satelit seperti studi 60 taman nasional.
- Petakan jalur satwa: identifikasi koridor dan titik yang paling sering dilewati gajah, harimau, atau satwa lain.
- Rundingkan lahan dengan pemegang hak: untuk lahan di luar kawasan, manfaatkan skema areal preservasi atau perjanjian sewa dengan klausul larangan pagar.
- Pasang peringatan dini: gabungkan GPS collar, menara pantau, dan tim respons cepat, lalu siapkan cadangan jika jaringan satelit terganggu.
- Sisakan pagar di titik rawan: pertahankan pagar parsial di ruas dengan satwa berbahaya dan permukiman padat.
- Evaluasi tiap tahun: bandingkan data konflik dan penutupan lahan sebelum dan sesudah, lalu sesuaikan jenis batas per ruas.
Risiko yang Perlu Dihitung Sebelum Membuka Batas

Konsep ini punya harga yang harus dibayar. Sumber-sumber di atas menyebut beberapa risiko utama:
- Perambahan pelan-pelan: taman tanpa pagar lebih sulit mencegah pemanfaatan lahan yang merayap ke dalam, menurut studi 60 taman nasional.
- Keamanan: Kruger menurunkan pagar secara bertahap karena alasan keamanan dan pengawasan kejahatan lintas batas.
- Teknologi tidak selalu andal: collar di TNBBS pernah mati berbulan-bulan akibat gangguan jaringan satelit.
- Penegakan hukum: koridor Seblat bergantung pada operasi penertiban perambahan yang berkelanjutan, menurut Kemenhut.
- Fragmentasi lahan: di beberapa tempat, privatisasi tanah komunitas justru memecah lahan, menurut Mongabay.
- Biaya: pemindahan 1.000 gajah Kruger–Limpopo dianggarkan sekitar US$20 juta selama tiga tahun.
- Ketidakjelasan hukum: tidak ada kategori atau standar resmi fenceless, sehingga tiap kawasan perlu dasar hukumnya sendiri.
FAQ — Konsep Fenceless Jadi Tren Baru Suaka Margasatwa Modern
Apa itu konsep fenceless dalam suaka margasatwa modern?
Konsep fenceless adalah pendekatan yang mengurangi pagar fisik permanen di batas kawasan satwa liar. Fungsi pagar digantikan koridor, kesepakatan lahan, patroli, dan peringatan dini. Istilah ini bukan kategori hukum di Indonesia. Studi 60 taman nasional (2026) menunjukkan pagar penuh, sebagian, dan tanpa pagar masing-masing punya kelebihan dan risiko.
Bagaimana cara memulai pendekatan tanpa pagar penuh?
1) Tetapkan tujuan batas: inti tertutup atau konektivitas.
2) Ukur tekanan di setiap ruas batas.
3) Petakan koridor dan jalur satwa.
4) Rundingkan lahan dengan pemegang hak.
5) Pasang peringatan dini, sisakan pagar di titik rawan.
Berapa biaya konsep fenceless?
Tidak ada angka baku, dan kami tidak menemukan biaya per kilometer untuk Indonesia. Studi 60 taman nasional menyebut pembangunan dan perawatan pagar di area luas mahal. Sebagai pembanding biaya konektivitas, pemindahan 1.000 gajah Kruger ke Mozambik dianggarkan sekitar US$20 juta selama tiga tahun, menurut African Wildlife Foundation.
Apakah suaka margasatwa di Indonesia sudah tanpa pagar?
Tidak ada data resmi yang kami temukan tentang status pagar per kawasan. Praktik yang sejalan dengan logikanya ada, seperti koridor gajah Seblat dan pengelolaan lanskap mosaik Sugihan–Simpang Heran, tetapi keduanya bukan program “fenceless” resmi.
Ditulis oleh Analisa, redaksi shercat.com. Terakhir diverifikasi: 21 September 2026. Sumber utama: Ditjen KSDAE, The Conversation/IOL, BioScience, Peace Parks Foundation, The Maa Trust, Mongabay, Rest of World, Tempo, dan Kompas.id.
